11 February 2008

SPIRITUALITAS CINTA MANUSIA

Oleh: Pizaro

Karena cinta, duri menjadi mawar

Karena cinta, cuka menjadi anggur segar.

Karena cinta, pentungan menjadi mahkota penawar.

Karena cinta, kemalangan menjelma keberuntungan.

Karena cinta, rumah penjara tampak bagaikan kedai mawar.

Karena cinta, tumpukan debu tampak sebagai taman.

Karena cinta, api yang berkobar-kobar jadi cahaya yang menyenangkan.

Karena cinta, setan berubah menjadi bidadari.

Karena cinta, batu yang keras menjadi lembut bagai mentega.

Karena cinta, duka menjadi riang gembira.

Karena cinta, hantu berubah menjadi malaikat.

Karena cinta, singa tak menakutkan seperti tikus.

Karena cinta, sakit jadi sehat.

Karena cinta, amarah berubah menjadi keramahtamahan.

(Jalaluddin Rumi)

Oh Rumi tunjukkan padaku, cinta apa itu?

Ternyata cinta tidak hanya terbelit pada dinamika sesama manusia. Cinta tidak melulu dinisbahkan pada pertalian pop antara pria dan wanita. Keagungan cinta mencoba menghadirkan pandangan baru memandang keagungan seisi alam. Karena cinta adalah beyond of love. Cinta itu melampui makna cinta itu sendiri. Namun cinta apakah yang seperti itu?

Bagi Gede Pramana, ada dimensi kedua dari cinta yang layak dicermati setelah makna cinta sebagai perasaan, yakni cinta sebagai sebuah kekuatan (power). Mari kita renungi perjalanan cinta kita masing-masing. Ada kekuatan maha dahsyat yang ada di dalam diri, yang membuat badan dan jiwa ini demikian perkasanya. Seolah-olah disuruh memindahkan gunung-pun rasanya bisa. Menempuh jarak Padang-Jakarta pun it’s OK dikerjakan. Hampir tidak ada penugasan dari lawan jenis yang kita cintai yang tidak bisa diselesaikan. Mulut ini seperti dengan cepatnya berteriak : bisa ! Demi si dia? So what gitu lho?

Bermula dari pemahaman seperti inilah maka Deepak Chopra dalam The Path To Love seperti disitir Gede Pramana, menyebut bahwa jatuh cinta adalah sebuah kejadian spiritual. Ia tidak semata-mata bertemunya dua hati yang cocok kemudian menghasilkan jantung yang berdebar-debar. Ia adalah tanda-tanda hadirnya sebuah kekuatan yang dahsyat. Persoalannya kemudian, untuk apa kekuatan dahsyat tadi dilakukan.[1]

Kaum agamawan nan bijaksana menggunakan kekuatan terakhir sebagai sarana untuk bertemu Tuhan. Usahawan yang berhasil menggunakan tenaga maha besar ini untuk menekuni seluruh pekerjaannya. Ibu yang mencintai keluarganya mengabdikan seluruh tenaganya untuk mencintai anak dan suaminya. Pekerja yang menyadari kekuatan ini menggunakannya untuk bekerja mencari harta di jalan-jalan cinta. Seorang mahasiswa yang sangat menyayangi ilmunya hingga berapapun uang ia habiskan sekedar membeli buku. Banyak orang yang dijemput keajaiban karena kemampuan untuk membangkitkan tenaga maha dahsyat ini.

Kita bisa bayangkan, tentara Inggris yang demikian perkasa harus pergi dari India karena kekuatan cinta Mahatma Gandhi beserta pejuang lainnya. Negeri ini dideklarasikan secara amat gagah berani melalui duet cinta Sukarno-Hatta. Demokrasi Amerika berutang amat banyak pada cinta George Washington. Raksasa elektronika Matsushita Electric dibangun di atas tiang-tiang cinta Konosuke Matsushita. Microsoft sampai sekarang masih dipangku oleh kecintaan manusia luar biasa yang bernama Bill Gates. Sulit membayangkan bagaimana seorang Jenderal besar Sudirman bisa memimpin pasukan melawan Belanda dengan badan yang sakit-sakitan, kalau tanpa modal cinta yang mengagumkan. Wanita perkasa dengan nama Kartini mengambil resiko yang demikian tinggi untuk mengangkat derajat kaumnya, apa lagi yang ada di baliknya kalau bukan kekuatan-kekuatan cinta.

Boleh saja Anda menyebut rangkaian bukti ini sebagai serangkaian kebetulan, tetapi Gede Pramana setuju dengan Deepak Chopra yang menyebut bahwa jatuh cinta adalah sebuah kejadian spiritual. Dari sinilah sang kehidupan kemudian menarik kita tinggi-tinggi ke rangkaian realita yang oleh pikiran biasa disebut luar biasa. Di bagian lain bukunya, Chopra menulis, “…merging with another person is an illusion, merging with the Self is the supreme reality…”. Bergabung dengan orang lain hanyalah sebuah ilusi, tapi bergabung dengan sang Diri yang sejati, itulah sebuah realita yang maha utama.[2] Aduh kayak Muhammad Iqbal saja, ketika mengatakan Ego Tertinggi adalah Tuhan yang menghasilkan keindahan estetik.[3] Kita melihat Indah karena memang Objek yang kita pandang itu indah. Karena indah bukan lahir dari penghayatan subjektif, tapi realita objektif.

Jatuh cinta sebagai kejadian spiritual, yang dituju adalah bergabungnya diri kita dengan Diri yang sejati. Ada yang menyebut Diri sejati terakhir dengan sebutan Tuhan, ada yang memberinya sebutan kebenaran, ada yang menyebutnya dengan inner life, dan masih banyak lagi sebutan lainnya. Apapun nama dan sebutannya, ketika Anda menemukannya, kata manapun tidak bisa mewakilinya. Yang ada hanya: ahhhhh ! Serupa dengan pengalaman jatuh cinta para mahasiwa saat ini, di mana semua unsur kognisi, afeksi, konasi, dan psikomotorik sedemikian kuat dan perkasanya, demikian juga dengan jatuh cinta sebagai kejadian spiritual. Ia mendamaikan, menggembirakan, mencerahkan, mengagumkan dan menakjubkan. Dan yang paling penting, semuanya kelihatan serba sempurna. Air sungai, daun di pohon, desir angin, suara ombak, wajah pegunungan, demikian juga dengan pekerjaan, keluarga, atasan, bawahan. Seorang sahabat yang kerap jatuh cinta seperti ini, pernah mengungkapkan, dalam keadaan jatuh cinta, setiap lembar daun di pohon apapun terlihat seperti sehalaman buku suci yang penuh inspirasi. Setiap hembusan angin adalah pelukan-pelukan tangan kekasih yang amat menyentuh. Setiap suara air adalah nyanyian-nyanyian rindu yang menyentuh kalbu. Anda tertarik ?


Cinta di Psikologi Islami

Cinta adalah bahasa fitrah manusia. Namun apa jadinya jika kesucian cinta dipasrahkan kepada libido yang mengikat kepada kotoran yang berat? Ibnu Qayyim al-Jauziyah menyatakan bahwa spiritualitas yang ditekan oleh cinta hanya memperosok manusia jauh ke jurang yang lebih dalam. Oleh karenanya cinta dan syirik adalah dua hal yang inheren. Al-Jauzi kemudian teringat bahwa Allah Swt. mengisahkan cinta orang-orang musyrik pada kaum Nabi Luth, dan permaisuri Mesir yang ketika itu masih berstatus musyrik. Semakin besar kesyirikan seseorang, maka ia diuji dengan cinta gambar-gambar dan sebaliknya semakin kuat tauhid seseorang, maka ia dipalingkan dari kenistaan kelam tersebut. Selanjutnya al-Jauzi menyatakan bahwa zina dan homoseksual akan mengeliminir hati manusia, walaupun orang itu pada dasarnya baik-baik saja.[4]

Abdul Mujib menyayangkan jika manusia hanya membelit ekslusif cinta dalam koridor birahi. Dalam psikokogi Islami, seperti dikatakan Mujib, cinta merupakan aktivitas kalbu manusia yang naturnya cenderung kepada rohani (suci, baik, dan positif). Cinta merupakan manifestasi dari sifat Al-Rahman, Al-Rahim, Al-Wadud Allah Swt.[5] Jika skema kalbu menjadi kuat dan energi nafsu melemah, cinta yang seksis itu berubah menjadi cinta ilahiah, satu cinta universal dan tidak banyak menuntut karena disinari oleh ruh ketuhanan. Aktualisasinya adalah pesaudaraan (ukhuwah), saling menyayangi (tarahum), saling tolong menolong (ta’awun), saling toleransi (tasamuh), saling menanggung (takaful), yang semuanya didorong oleh perintah illahi.[6]



[1] Gede Pramana, “Cinta sebagai kejadian spiritual,” dalam Muslim Iqro Club Multimedia, Materi Kajian Islam 2.

[2] Ibid.

[3] A. Khudori Sholeh, Wacana Baru Filsafat Islam (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2004), h. 303-304.

[4] Ibnu Qayyim al-Jauziyah, Keajaiban Hati. Penerjemah Fadhli Bahri, Lc (Jakarta: Pustaka Azzam, 1999), h. 103.

[5] Abdul Mujib, Risalah Cinta: Meletakkan Puja pada Puji (Jakarta: RajaGrafindo, 2004), Cet. ke-2, h. 68.

[6] Ibid., 68-69.

EVERYTHING ABOUT LOVE[1].

Oleh: Pizaro

Apa itu Cinta?

Suatu kali dalam launching film Love, Irwansyah mengatakan bahwa cinta adalah pengorbanan. Bahkan kemudian Laudya Chinta Bella yang juga berakting dalam film itu, mendefenisikan cinta sebagai ketulusan. Wah mereka berdua suruh belajar psikologi dulu deh. Kenapa yah arti cinta selalu dianalogikan, bukan diuraikan. Apa benar kata Vinny Alvionita jika ungkapan klise mereka seperti itu karena cinta adalah misteri yang sulit didefinisikan? Kayaknya enggak juga deh.

Dalam psikologi kita mengenal beberapa elemen psikis seperi konasi (kemauan), kognisi (pikiran), psikomotorik (fisik), dan emosi (perasaan). Dalam perkembangannya emosi dinyatakan salahsatunya dalam bentuk cinta. Ashley Montagu memandang cinta sebagai sebuah perasaan memperhatikan, menyayangi, dan menyukai secara mendalam yang biasanya disertai dengan rasa rindu dan hasrat terhadap objek.

Sedangkan Abraham Maslow melihat cinta sebagai proses aktualisasi diri yang bsia membuat orang melahirkan tindakan--tindakan produktif dan kreatif. Dengan cinta seseorang menyadari bahwa dirinya akan mendapatkan kebahagiaan bila mampu membahagiakan orang yang dicintainya.

Psikologi Cinta

Untuk lebih jelasnya, Erich Fromm, psikolog dari Jerman (1900-1980), pernah mengajukan pemikirannya tentang cinta. Seperti dikutip Eko Harianto, Fromm menelisik konsep cinta yang sejati menjadi 4 unsur:

1. Care. Diperlukan agar dapat memahami kehidupan, perkembangan yang maju atau mundur, baik atau buruk, dan bagaimana kesejahteraan orang yang mencintainya.

2. Responsibility. Tanggung jawab diperlukan atas kemajuan, keberkembangan dan kebahagiaan, dan kesejahteraan orang yang dicintai. Maksudnya bagaimana kesiapan diri untuk menanggapi kebutuhan yang diperlukan dan juga bagaimana kesiapan dalam menghadapi dan memecahkan masalah-masalah yang muncul.

3. Respect. Hal ini menekankan pada bagaimana menghargai dan menerima objek yang dicintai apa adanya dan tidak bersikap sekehendak hati.

4. Knowledge. Pengetahuan diperlukan guna mengetahui seluk beluk objek yang dicintai. Bila objek yang dicintai manusia, maka harus dapat memahami kepribadiannya, latar belakang yang membentuknya, dan kecendrungan dirinya. Dan yang perlu dipahami lagi bahwa kepribadian seseorang itu terus berkembang.[2]

Bagi Fromm, setiap manusia memang didorong untuk memuaskan kebutuhan-kebutuhan fisiologi dasar akan kelaparan, kehausan, dan seks. Namun orang-orang yang sehat memuaskan kebutuhan-kebutuhan yang sehat secara kreatif dan produktif.[3]

Persepsi cinta juga ditawarkan J. Sternberg lewat triangular of love. Menurutnya cinta adalah sebuah kisah yang ditulis setiap orang. Kisah tersebut merefleksikan kepribadian, minat, dan perasaaan seseorang terhadap suatu hubungan.

Konsep cinta menurut Sternberg memiliki tiga unsur:

1. Yakni gairah, elemen motivasional yang didasari oleh dorongan dari dalam diri yang bersifat seksual.

2. Kedua, keintiman, yang merupakan elemen motivasi, dan di dalamnya terdapat kehangatan, kepercayaan untuk membina hubungan.

3. Ketiga, komitmen yang merupakan elemen kognitif berupa keputusan untuk secara sinambung dan tetap menjalankan sesuatu kehidupan bersama.

Sternberg menyimpulakn bahwa kadar cinta dalam setiap individu sangat berbeda. Ada yang hanya kuat di gairah, tapi sungkan dalam berkomitmen. Atau ketika keintiman meninggi, namun tidak mempunyai lemen kegairahan, just as friend. Karenanya Strenberg mengurai komponen-komponen itu agar kita dapat melihat seperti apa karakter percintaan umat manusia.

Tipe

Komponen yang hadir

Deskripsi

Non Love

Ketiga Komponen tidak ada

Terjadi pada hubungan antar pribadi yang semata-mata hanyalah pertemanan biasa.

Liking

Hanya Keintiman

Ada rasa kedekatan, saling Pengertian, dukungan emosional. Ini terjadi pada hubungan persahabatan.

Infatuation

Hanya Gairah

Layaknya cinta pd pandangan pertama. Hanya tertarik pd fisik semata. Biasanya mudah hilang.

Empty Love

Hanya Komitmen

Terjadi pd pasangan yg telah menikah dalam waktu panjang. Mereka sudah kehilangan gairah fisik dan emosional

Romantic Love

Keintiman dan gairah

Relasi yg melibatkan gairah fisik maupun emosi yg kuat, tanpa ada komitmen. Contohnya pacaran atau HTS.

Companionate Love

Keintiman dan Komitmen

Hubungan jangka panjang yg tidak melibatkan unsur seksual, termasuk persahabatan. Contohnya perkumpulan orang-orang tua.

Fatous Love

Gairah dan Komitmen

Hubungan dengan perjanjian tertentu atas dasar gairah saja. Seperti kawin kontrak.

Consummate Love

Semua Komponen

Cinta yg sempurna dan ideal.

Candu akan Cinta: What’s wrong about Love?

Dalam sudut psikologis adalah wajar bagi manusia mengembangkan rasa cintanya. Namun yang menjadi mengkhawatirkan ialah bagaimana setiap individu mengalami gejolak rasa cemas, gelisah, khawatir hanya karena cinta. Dan bahkan selalu menyisihkan waktunya everything about love. Tanda-tandanya mungkin sebagai berikut.

· Adanya pikiran obsesif misalkan terus menerus curiga akan kesetiaan pasangan, terus menerus takut ditinggalkan, sehingga kemanapun selalu mengikuti.

· Selalu meminta diperhatikan dalam setiap waktu.

· Manipulatif, menghalalkan berbagai cara agar pasangan mengikuti kehendaknya.

· Selalu bergantung pada pasangan dalam segala hal, seperti pendapat, mengambil keputusan dan lainnya.

· Menuntut waktu, perhatian, dan pengabdian yang total dari pasangan /kekasih. Menjadi semakin egosentris.

· Menggunakan seks sebagai alat untuk mengendalikan psangan.

· Menganggap seks adalah bagian dari cinta dan sarana untuk mengekspresikan cinta.

· Tidak bisa memutuskan hubungan walaupun sangat tersiksa, karena selalu diiming-imingi janji-janji surga kekasih.

· Kehilangan hal terpenting dalam hidup, seperti mengekspresikan jatidiri sendiri, tersendat dalam pendidikan, diskusi jadi sulit, pekerjaan terbengkalai etc.

Refleksi Cinta

Seseorang yg menjadi candu akan cinta, memperlihatkan ketidakmatangan secara psikologis. Secara spesifik ini terlihat belum mampunya individu menyelesaikan konflik internal dalam diri yang seharusnya dapat diselesaikan bila ingin meraih kesempurnaan cinta ala Sternberg. Karena itu penting yang disebut sense of our identity, di mana semaksimal mungkin kita tahu pertanyaan-pertanyaan dari:

Siapakah aku?

Punya apakah aku?

Dan Apa yang aku bisa?[4].

Setelah itu kita dapat, adalah keharusan untuk mengembangkan self of our awareness (Rasa Kesadaran) dengan berprinsip mandiri dahulu untuk menghadapi masalah.

Bagaimana pada dasarnya hubungan cinta yg telah dilaksanakan mempunyai kewajiban untuk dapat memajukan kualitas masing-masing dalam berbagai segi positif. Kita tentu akan heran ketika gaya cinta yg selalu menekankan pada faedah gairah selalu dinomorsatukan. Adalah baik jika hubungan pasangan berlalu dengan senantiasa membantu agar si objek cinta mengerti akan arti kehidupan yang lebih agung lagi. Karenanya, kita juga akan “aneh” bukan? Bila ada pasangan berbarengan duduk manis dalam seminar, yang satu jadi moderator dan yang pasangannya sibuk memfoto, bersama-sama menangani proyek sosial, saling bertukar karya-karya sastra, “debat” tak kunjung usai tentang keilmuan masing-masing.

Selain itu, kita semestinya berhati besar untuk menafsirkan cinta dalam sudut pandang yang luas. Alfred Adler pernah mendelegasikan bahwa dalam setiap individu mempunyai diri keratif, yang cenderung hanya ada pada orang tersebut. Seorang aktivis mungkin menafsirkan cintanya kepada berbagai hal untuk mengembangkan organisasinya. Seorang Frankl menafsirkan Cinta lewat 10 perintah Tuhan. Seorang bookworms menganggap buku adalah pacar sejatinya. Sedangkan, musisi lebih suka melampiaskan “keintimannya” pada sebuah gitar. Apakah juga kita harus menafsirkan cinta layaknya Fromm? yang menganggap Cinta adalah sisi produktifitas yang akan melahirkan keratifitas. Hanya diri kreatif kita yang bisa menjawab.



[1] Diskusi Kamisan FKM BPI/BKI Se-Indonesia bekerja sama dengan mahasiswa angakatan 2007 BPI UIN Jakarta.

[2] Eko Harianto, Psikologi Cinta Sejati (Yogyakarta: Prisma Sophie, 2004), h. 35-36.

[3] Duane Schultz, Psikologi Pertumbuhan, cet. 14 (Yogyakarta: Kanisius, 1991), h. 66. Cinta di sini juga bisa disebut cinta produktif. Baginya cinta produktif bisa menjawab gejolak masyarakat modern, salah satu kareteristiknya adalah kreatifitas, khususnya aritistik. Hal ini juga menjadi pemandangan serupa dari konsep sublimasi Freud. Konsep ini setidaknya telah berekspansi ke ranah yang lebih sosiologis, walau Fromm pada mulanya bersifat psikologis dan filosofis.

Pikiran-pikiran Fromm tentang masyarakat modern sedikit banyak diulas oleh Khoirul Rosyidi. Lebih jelas lihat Khoirul Rosyadi, Cinta dan Keterasingan (Yogyakarta: LKiS, 2000). Selain Freud dan Fromm gagasan sosial dari kerangka psikologis, terangkum juga oleh Adler dengan skema hasrat sosialnya. Di mana manusia tergerak oleh dimensi sosial di mana ia hidup. Menariknya mereka semua bagian dari mazhab psikodinamika. Dengan ini kita dapat melihat gambaran pribadi seimbang dalam konteks psikodinamika. Ulasan dimensi sosial Adler dalam Pizaro, “Dinamika Jiwa-jiwa Revolusioner,” artikel diakses pada tanggal 3 Desember 2007 dari http//:www.bpi-forum.blogspot.com/2007/12/dinamika-jiwa-jiwa-revolusioner.html

[4] Lihat pembahasan Resiliensi pada Desmita, Psikologi Perkembangan (Bandung: Rosda Karya, 2005), h. 227-232.

07 February 2008

PKS DAN PSIKOLOGI POLITIK-NYA

oleh: Pizaro

Penggiat Kajian Psikologi Politik BPI UIN Jakarta.

Keberanian adalah awal kreativitas

(Rollo May, Eksistensialis)

Here Come The Sun and I say It’s Alright


Mendengar diskusi dalam todays dialogue pada hari selasa (5/1/08) di METRO TV menyiratkan ada suatu pemandangan baru hasil dari oleh-oleh MUKERNAS PKS yang diadakan di Bali 1-3 Februari 2008. Diskusi itu dihadiri Fahri Hamzah (Wasekjen PKS) dan Jefrie Geovanie (The Indonesian Institute) dengan anchor Meutya Hafid.

Statement dari Fahri Hamzah yang menjelaskan bahwa inisiasi politik PKS saat ini lebih mengarah menjadi partai terbuka, menjadi tanda-tanya berbagai pihak. Ibarat dualisme, di satu sisi PKS sudah terlampau renta dijadikan image partai Islam ekslusif, namun di sisi lain hal itu berbenturan jika kita mencari referensi di MUKERNAS.

Strategi Politik (Baca: Marketisasi partai)

Dalam psikologi politik, kita mengenal termin strategi sosial dengan setting psikologis dalam mencari kedekatan emosional denagn konstituen. Kita tentu memahami, hasil MUKERNAS tidak lebih sebagai strategi yang sah-sah saja dilakukan setiap partai. Jika dikatakan PKS sudah terlempar dari komitmen pendirian partai, tampaknya ucapan ini perlu dipertanyakan. Karena apa? Karena politik sarat nilai. Partai tentu saja tidak ingin diikat oleh tali kekang stagnasi. Karena yang menjadi penting adalah bukan hanya berkutat pada diskusi kemapanan ideologi, namun bagaimana dialektika menafsirkan ideologi tersebut. Terlebih unsur pragmatis dalam kancah politik Indonesia sangat kental. Banyak partai di Indonesia memiliki ideologi mapan, namun mereka pasif menafsirkannya dalam bentuk riil. Pedoman ini pun ditunjukkan Fahri Hamzah yang menilai sekalipun “…PDIP becorak kiri, toh terjadi privatisasi besar-besaran ketika PDIP berkuasa…”.

Kita bisa melihat dari pernyataan dalam situs-nya, bahwa inilah ijtihadi sebuah partai yang berkomitmen nasionalis-relijius. Lembaga, sebagai sebuah institusi akan terus berdinamika melihat gejolak problem yang ada, karena Indonesia juga multi etnis, beragam, dan itu butuh pemahaman NKRI dengan wajah spiritual di atasnya. Kita ingat ketika H. Agus Salim meempunyai tafsir sendiri tentang nasionalisme dengan koridor keislaman di baliknya. Terlebih PKS yang didukung kaum cendikia kampus, mempunyai arah ijtihadi tersendiri. Pemilihan Bali sebagai tuan rumah pun tak lepas dari itu.

Alfred Adler pernah menyiratkan bahwa gaya hidup (dalam konsep psikologi politik diartikan misi) dalam setting sosial memiliki bentuk berbeda-beda yang diemban setiap lembaga. Artinya, partai yang mempunyai kader bersahaja (baca: almarhum KH. Rahmat Abdullah) ini, mengembangkan gaya hidup tersendiri yang coba diimplemantasikan menjadi partai “gaul” atau fleksibel sejauh masih dihiasi prinsip-psinsip dakwah. Psikodinamika juga mengingatkan ketika gaya hidup sukses menjalani tabiat politik, pada dasarnya ada diri kreatif di belakang itu semua (semacam terminologi ruh dalam psikologi Islami).

Yang menarik dari MUKERNAS adalah, PKS seakan mau melakukan antitesa pada paradigma yang bergulir bahwa partai berbasis kampus ini anti pluralitas, anti non-muslim, atau apalah namanya. Ini penting dalam psikologi politik dan itu coba diangkat PKS dengan mengundang Taufik Kiemas dan ormas-ormas non-Islam. Kita melihat ada kesan political approach dengan tema besar indigenous psychology. Dalam psikologi politik, pendekatan ini sangat lazim digulirkan dalam setting kekuatan daerah pada suatu negara. Seperti PAN dengan Muhammadiyah sumatera-nya. Bahkan pada dahulu kala, walisongo sudah memulainya dalam bingkai perwayangan khas Jawa.

Bukan perubahan Ideologi

Jika perkataan Jeffrie Geovanie yang mengatakan bahwa masyarakat menjadi bingung melihat sepak terjang PKS saat ini, adalah perlu melihatnya pada tema jangka panjang. Masyarakat mugkin saja terancukan dalam membaca MUKERNAS, namun dalam psikologi politik, proses politik yang menentukan segalanya. Terlebih, partai dalam psikologi politik bukan menjadi dogma, sekalipun itu partai Islam. Akan tetapi, lebih sebagai ”syiar” dengan political aproach untuk menerapkan prinsip-prinsip ideologis.

Hal terpenting adalah, bahwa apa yang dilakukan PKS sama sekali jauh bila disebut perubahan ideologi. Tolak ukur dari perubahan ideologi adalah pada perombakan AD/ART lembaga yang dalam hal ini enggan dilakukan PKS. Akan tetapi, konstelasi politik yang terjadi lebih pada titik tekan perubahan paradigma dan bentuk strategi politik.

Selain itu, kita mungkin heran jika konteks politik keindonesiaan mencoba disama-ratakan dengan sistem partai di AS. Ketika masyarakat sana sudah fasih menerjemahkan sepak terjang (partai) Republik dan (partai) Demokrat. Permasalahannya kemudian dalam psikologi politik, amatlah beresiko jika partai keukeuh pada satu bentuk pendekatan. Karena politik adalah dinamika. Ini terjadi jelas pada PKI, ketika mereka tidak berkutik pada cara-caranya menafsirkan ideologi.

Perlu diingat, apa yang terjadi di AS lebih mempunyai titik pijak pada sistem politik. Ini dikarenakan pada minimalitas-kuantitas ideologi yang berkembang di sana. Fakta ini seakan membuat masyarakat paman Sam sudah bisa menentukan “takdir” partai. Berbanding terbalik jika dibandingkan Indonesia yang sarat ideologis dan banyaknya partai yang hadir. Karena sistem politik Indonesia mengamini kecendrungan itu. Ini pun belum diikutsertakannya indigenous psychology masing-masing partai. Selanjutnya, pada era demokrasi saat ini, jejak langkah reformasi menjadi sulit ditebak, inilah yang terus bergulir pada kesulitan individu melihat kepastian partai (baca: strategi politik).

Yang membedakan PKS nantinya.

Allport pernah mendelegasikan bahwa prinsip hidup atau ideologi politik amat penting menaungi derap langkah. Sedangkan, Adler menyatakan bahwa finalisme fiktif atau visi politik menentukan cara “berepistemologi” manusia sosial. Karenanya, yang membedakan PKS nantinya dengan PPP, PBB, PKB, atau PAN, di mana PKS harus membuktikan ke-istiqomahan-nya pasca MUKERNAS.

Namun jika kita tilik dalam psikologi politik, sebenarnya partai yang berpusat di bilangan Mampang Prapatan ini, terbilang unggul satu langkah dengan partai-partai Islam lainnya. Pertama, seperti yang diamini Jefrie Geovanie, PKS sangat cerdik mengelola potensi-potensi kadernya, hingga partai ini terbilang paling solid. Atau dalam koridor psikologi politik terdefinisi sebagai manajemen konflik partai. Kedua, penulis melihat Image PKS lebih kuat dari partai lainnya. Ketiga, tubuh PKS cukup bersih dari kasus-kasus kriminalisasi partai atau kasus KKN yang justru itu banyak terjadi pada partai lain. Kempat, nyali sosial PKS telah teruji di masyarakat, ketika momen-momen bencana hadir dan itu dilakukan dengan sistemik. Ironisnya or the awful, PKS adalah partai yang tidaklah besar layaknya PKB dan PPP.