08 March 2008

SEARCHING IS OBJECTIVENESS OF PSYCHOLOGY (LETTER FOR AKHINA PIZARO THE LEADER OF FKM)

By: ALICIA BALDAN PUTRI AT GAJAH MADA UNIVERSITY, JOGJAKARTA

"Downright!! I like to see your comments yesterday.
but genuiness I do not suspect, in the reality you are a student of Da’wa.
I sure you very is taking a fancy to studies or discussion which have west friction breath and east. And my handshake, greeting recognize we will compare notes effectively. Greet to return for FKM BPI/BKI Se Indonesia of University of Gajah Mada"

Jujur aku sangat tersentak bak peneliti Descartes itu ketika lihat tanggapan kamu kemarin. Aku salut, kayaknya seorang Pizaro ingin sekali menyadarkan seorang Alicia. and also, Oh my Godness seorang alicia dibilang mendramatisir. Tapi asli aku gak sangka, aku kira kamu anak psikologi or filsafat, ternyata mahasiswa Fak. Dakwah dan Komunikasi. Ada ya Fakultas itu, sorry man sumpah aku baru denger. Jurusannya juga Bimbingan dan penyuluhan Islam. Apaan tuh?? Aku bisa dibilang sama kamu, wawasan kamu luas juga. Yang bikin aku senang discuss sama kamu, kalau kasih jawaban kamu selalu menyertakan referensinya. Bang Pizaro orangnya Rajin nih. Minimal aku jadi ketiban pinter lah. Hehehe It’s not like me, tanggapan sekenanya aja. Aku yakin buku kamu banyak. Maka itu aku mau pinjem. Kayaknya tampilan arial lebih enak dibaca.

One more. Kamu ini!! aku malu man disebut ukhti, kalo sama jilbaber UGM, you bolehlah, tapi sama I yang pake jilbab seleboran aja, kadang gak pake, just style aje, trus levis ketat, kalo fitness apa lagi ajegile deh. Kadang selinting rokok pasti dihisap setiap hari. Masak manggil ukhti juga?? Ente becanda kaleee brooo. Aku kenal Islam dari bacaan2 perpus bukan dari pengajian man.

Sekalian aja bro suruh aku ngubek-ngubek seluruh kampus di Jogja. Pokoknya aku mau pinjam sama kamu saja OK.

BACK TO DISCUSS: THE THIRD
I Give you The way of Quo Vadis:
This’ The Right Method

A student of UGM shed tears dot for the shake of dot.. tes..tes..tes.. he weep without because clear, so see its friends.
There'S only letter of Jakarta beside left feet of him.

Olalala.. begitulah perasaanku membaca suratmu. Descartes, Freud, Nietszche.... Kamu ingin jadi psikolog mereka??? Menjelaskan bahwa ucapan mereka sekedar naluri. Tapi psikolog bukan hanya memberitahu bahwa itu adalah naluri, tapi juga menjelaskan kenapa naluri itu ada? Naluri yang akhirnya berbenturan dengan Fithrah ala psikologi Islami: Sebuah pengingkaran terhadap Tuhan!

Sulit rasanya untuk menasehati Nietsczhe agar meletakkan pedangnya di tanah. Lalu menghadap langit bicara kepada Tuhan dan mengadahkan tangan. Mereka bukan Ana dalam cerpenmu yang habis kubaca berkali-kali, yang lekas memburu Foto Foucault ketika melihat tulisan Freud kepada Oskar Pfitser.

Pekembangannya rasionalitas beragama memang melahirkan apa yang sulit dibendung dari doktrin agama, maka itu lahirlah psikologi Agama. Dalam hal ini, perkataanmu apakah mengalami gesekan bahwa dalam hal ini Islam juga harus toleran dengan pendekatan kaum psikolog barat yang mencoba melepas jubah ajeg yang akan menjadi tembok menembus arti mendalam dari Freud. Bisakah ilmu Islam melakukan itu? Melepaskan sejenak doktrinnya dan gentle bertarung dengan Barat hanya dengan bermodal otak saja?

Aku masih belum puas melihat tanggapanmu kemarin. Yang kamu contohkan kemarin lebih kepada temuan semata, bukan suatu konsep utuh dari basis pengembangan Qur’ani dan al-Hadis.

Aku pernah membaca ulasanmu untuk resensi sebuah buku. Di situ kamu juga mengatakan bahwa penulis belum keluar dari pandangan-pandangan tokoh-tokoh klasik. Dalam hal ini aku sepakat sama kamu, kita sepertinya kehilangan para intelektual muslim yang berani meneliti dan membuat bangunan konsep yang orisinal. Kita hanya miris, melihat Barat berhasil membangun ilmunya dan menyebar di pelosok dunia. Ketimbang Islam, yang belum tuntas menyelesaikan filosofi ilmunya dan timpang dalam menyelesaikan PR-PR ilmiahnya.

03 March 2008

SURAT BALASAN UNTUK UKHTINA ALICIA B. PUTRI DARI UGM: DISKUSI KEDUA

Oleh: Pizaro
Mahasiswa Bimbingan dan Penyuluhan Islam

Fak. Dakwah dan Komunikasi UIN Jakarta

Suatu hari seorang ilmuwan melakukan penelitian di Perpustakaan Rene Descartes di Paris, Perancis. Ketika ia mulai meneliti dengan membongkar sejumlah buku, alangkah kagetnya ia ketika menemukan buku al-Ghazali di sana. Ia lalu membalik halaman dari buku al-Ghazali tersebut. Dan suatu hal yang aneh tidak ia kira, kenyataannya tesa Ghazali bahwa "Keragu-raguan adalah awal keyakinan" diberi tanda jelas oleh pena Descartes. Akhirnya kita bisa menyimpulkan bahwa Filsafat Rasionalisme ala Descartes sudah ulung dibahas al-Ghazali. Maka itu, adalah mungkin Descartes juga banyak belajar

dari al Ghazali"

Alaikum salam wr.wb ya Ukhti….

Quo Vadis Tanggapan Ukhti?: Mencari Kontruksifitas

Salam kenal kembali. Dan titip Salam dari FKM untuk teman-teman civitas akademika Gajah Mada Universiteit. Saya ucapkan terimakasih untuk perhatian anda selama ini. Pertama-tama saya bisa katakan jika anda dalam hal ini cukup kritis. Akan tetapi ada beberapa catatan yang penting untuk karir ilmiah mu nanti.

Intermezo Ghazali dengan Descartes, sekedar perkenalan Dalam surat ini, terlebih ukhti minta memakai Logika Descartes adalam Rasionalitas Ghazali. Pertama, Entahlah tampaknya ada persepsi berbeda mengenai diskusi, karena aduh baru kali ini diskusi itu diatur, maaf sekali lagi. Kita harus sepakat bahwa definisi diskusi adalah eksplorasi wawasan masing-masing dalam mengkaji fenomena yang ada. Saya agak risih jika ada pemaksaan metode yang saya kira tidak tepat. Jika anda katakan bahwa adalah bijak jika setiap kita mengutarakan pemikiran masing-masing, bukankah itu menelan ludah ukhti sendiri? Dan bukankah selama ini justru kebanyakan saya deh yang mengeksplorasi pemikiran. Sedangkan ukhti, tampaknya saya belum lihat tulisanmu untuk membahas (bukan menanggapi hehe) Freud? Hehe.. Jangankan Brill, Klein dan Abraham, lebih dari itu saya ada. Bisa lihat yah di Blogku.

Kedua, ukhtina terlalu mendramatisir. Jika Alicia heran, saya apalagi. Sejak kapan saya memakai masakan sebagai wajah yang sama untuk disandingkan dengan psikoanalisis. It’s just Analogy. Kemudian berlanjut pada materialisme. Tentu kita bisa mendikotomisasi antara materialisme dan materialistic. Tentu itu Beda. Materialistic dapat dibahas dari berbagai pemikiran, termasuk Islam. Sedangkan materialisme adalah dogma yang mengagungkan materi.

Ketiga, justru untuk mengkaji pembahasan kritik, bukankah sepatutnya kita harus memakai pisau analisis yang kritis dengan Freud, betul? Jika saya memakai argument Freudian, tentu kritik yang dihasilkan tidak optimal. Terlebih saya sudah banyak mengupas Freud dalam mainstream Freudian atau neo Freudian. Saya khawatir jika worldview psikodinamik yang msh dipakai, kajian kritik tidak akan berkembang. Dalam sejarah psikologi, anda bisa melihat bahwa psikoanalisis secara tidak langsung menyumbang peradaban psikologi lewat mazhab yang mengkritiknya. Itu mustahil terjadi jika yang dipakai untuk “menghabisi” Freud hanya psikodinamik. Tentu kita tidak akan melihat Behavioristik Pavlov, kita buta untuk memahami Humanistik Maslow or Rogers. Kita tersudut karena hanya bermimpi melihat Trait Theory dari Allport. Kita terilusikan Kreativitas Rollo May, tanpa Fakta. Kita tidak mengenal spirit Logoterapi, jika Frankl berpatokan pada dogma Psikodinamik. Dan say Goodbye untuk psikologi Islami jika begitu. Kenyataannya pembahasan mestilah integratif dan toleran dengan metode berbeda. Kalau ukhti masih keukeuh pada pemahaman otoristik itu, saya khawatir itu akan memojokkan ukhti dalam jurang bernama Stagnasi Ilmu pengetahuan.

Selain itu, Freud terlalu mengagungkan determinasi sejarah sebagai takdir matinya kebebasan humanitas manusia. Tentu menjadi ambivalensi dengan nama mazhab yang melekat dengan psikologi “esek-esek” Freud yaitu psikodinamika yang menitiberatkan terhadap konstelasi jiwa manusia.


Temuan Ilmiah: The Facts!

Ukhti jangan kaget, bahwa kajian Freud sudah lebih dahulu dikaji At-Tirmidzi. Itu Islam lho. Yaitu jika Freud dikenal sebagai peletak teori cinta-kebencian dan kematian-kehidupan, sementara itu at-Tirmidzi, pada abad ke-9 telah mengemukakan dualitas yang ditemukan jauh sebelum Freud lahir. Dalam buku Al Masail Al Makmunah, at-Tirmidzi berkata:

“Berbagai kecenderungan hati mengarah kepada cinta dan kehidupan sedangkan berbagai syahwat naluri mengarah kepada kematian dan kekuasaan. Hati adalah tempat diletakannya cinta. Sesungguhnya kehidupan timbul dari cinta. Adalah pengetahuan, ia tempat disimpannya cinta. Dengan demikian, hati akan hidup oleh pengetahuan yang selanjutnya ia menjadi ringan. Ketika hati telah ringan, ia akan cepat kepada ketaatan.”[1]

At-Tirmidzi berpandangan bahwa kehidupan dan cinta adalah selalu berdampingan. Adapun sumber berbagai naluri dan syahwat adalah sesuatu yang diletakkan di dalam diri manusia, yaitu kematian dan kekuatan. Kematian dan kekuatan selalu berdampingan. Sedangkan cinta dan kehidupan, keduanya selalu dibarengi dengan keringanan, kebahagiaan, kecongkakan, dan kasih sayang. Adapun kematian dan kekuatan, keduanya selalu dibarengi dengan keterbebanan, kesedihan, ketidakmenentuan, dan kekerasan.[2] Hebat kan?

Menurut saya tuduhan Ilmuwan muslim tidak melakukan pembatahan terhadap teori Freud lewat metode Ilmiah, adalah tuduhan tak mendasar. Ibrahim al-Jamal menemukan temuan yang berbeda dalam oedipus komplek. Menurutnya, suatu kali yang terjadi adalah kebalikan dari skema anak cinta ibu dalam kompleks Oedipus seperti yang ia temukan dalam suatu tes kejiwaan. Selama ini kita kenal bahwa kompleks tak lazim ini berpusat kepada aktivitas erotik sang anak terhadap ibu atau ayahnya. Namun kita tak dapat mengelak ketika yang terjadi adalah tak jarang seorang ibu yang sangat mencintai anaknya, hingga keduanya mengalami problem-problem psikologis.[3] Sebelumnya juga Badri nemukan perbedaan persepsi pada insting mati di Masyarakat Sudan. Hehehe baca lagi dunks tulisan epistemologiku yang pertama.

Zainal Abidin dalam disertasinya seperti dikutip Wirawan Sarwono tidak menemui adanya kaitan insting mati dengan penghakiman masa yang kerap terjadi di Indonesia. Ia telah meneliti sejumlah pelaku penghakiman massa di daerah Tangerang, dan menemukan bahwa prasangka merupakan salah satu penyebab dari perilaku tidak berperikemanusiaan, khususnya prasangka pada penegakan hukum. Seperti ucapannya:

“Jika pelaku mempersepsi bahwa perangkat hukum berjalan tidak semestinya, sehingga aksi yang dilakukan oleh para penjahat terus berlangsung di wilayahnya, maka ia merasa perlu untuk menegakkan hukumnya sendiri.”[4]

Pendapat Abidin ini didasarkan dari pengakuan-pengakuan presekutor dalam wawancara seperti dikutip di bawah ini:

“Saya percaya hukum, tetapi maling itu tetap harus dihabisi. Polisi tidak akan menghabisi mereka sehingga mereka akan selalu ada. Seandainya di kampung saya ada maling tertangkap lagi, apalagi sampai membunuh korbannya, saya pasti akan menghabisinya lagi. Soalnya saya gemes pada maling.

Maling mah tetep maling, jadi harus diberi pelajarannya keras, sampai mati. Ditahan polisi paling 2-3 tahun, dan begitu keluar dia akan jadi maling lagi.”[5]

Dalam penelitiannya, Abidin menyimpulkan bahwa ketidakpercayaan kepada aparat, keinginan untuk membela diri karena aparat tidak bisa diandalkan, dan penjahat itu bukan manusia, tetapi hanya “maling”, memotivasi massa untuk melakukan tindak kekerasan.


Kontroversi Agama Freud dan Nietsczhe

Ada suatu paradigma yang salah dalam melihat ateisme dalam sisi ilmiah selama ini. Saya tidak yakin jika yang dikatakan Nietsczhe dan Freud menjadi tolak ukur pembahasan ilmiah tapi mengasingkan Tuhan. Ukhti tahu? Paul Vitz (1998) seperti dikutip seorang penulis dari Bandung mengungkapkan bahwa penolakan terhadap Tuhan dan agama sering terjadi bukan karena hasil renungan dan penelitian yang sadar. Kita tidak percaya kepada agama bukan karena secara ilmiah, melainkan menemukan agama itu hanya sekumpulan takhayul dan menolak agama bukan karena alasan rasional, melainkan faktor psikologis yang tidak manusia sadari. Nietszhe menolak Tuhan, seperti diakuinya, bukan karena “pemikiran”, melainkan karena “naluri”. Hal yang mencengangkan adalah karena pada kenyataannya ilusi agama Freud secara mentah-mentah mengambil dari Feurbach. “...Teori ini tidak punya dasar dalam psikoanalisis...” ucap seorang penulis. Dan kemudian ia mengatakan bahwasanya Freud hanya sekedar mengemukakan opini pribadinya akan ilusi kesia-kesiaan agama. Freud sendiri memang mengakuinya dalam surat yang dikirim kepada kawannya, Oskar Pfister:

“Marilah kita berterus terang dalam hal ini bahwa pandanganku yang diungkapkan dalam bukuku, The Future of an Illusion, bukanlah bagian dari teori analitis. Semua gagasan di sana hanyalah pandangan pribadiku.”[6]

Storr juga menangkap kesan ambivalensi dalam jejak-jejak agama primitif yang tertuang lewat karya Totem dan Tabu. Ini tidak lain diutarakan karena pernyataan Freud sendiri yang menganggap jika totem dan tabu sekedar dibuat “iseng-iseng” dan Freud berharap orang-orang jangan terlalu mengambil pusing dalam buku yang ditulis ketika gerimis melanda itu.[7]

Ukhti, penolakan terhadap Qur’an dan Hadis terjadi bukan semata-mata karena banyak tudingan non-ilmiah dua sumber Islam itu. Tapi kebanyakan terjadi semata-mata faktor kebencian dan konspirasi. Akhirnya banyak orang (Seperti Michael Walker) yang mendukung teori ateisme, seperti Darwinisme, bukan karena mereka sepakat sama materialisme, namun karena Darwinisme telah mengasingkan Tuhan. Padahal Darwinisme sendiri sudah “dipenjarakan” di Barat dan menghina kaum Barat sendiri. Emang Ukhti mau dibilang Monyet? Afwan... (Senyum dong)



[1] Amir an-Najar, Psikoterapi Sufistik dalam Kehidupan Modern. Penerjemah Ija Suntana (Jakarta: Hikmah, 2004), h. 231.

[2] Ibid., h. 232.

[3] Ibrahim M. al-Jamal, Penyakit-penyakit Hati. Penerjemah Amir Hamzah Fachruddin (Bandung: Pustaka Hidayah, 2000), Cet. ke-5, h. 209.

[4] Prof. Dr. Sarlito Wirawan Sarwono, Psikologi Prasangka Orang Indonesia: Kumpulan Studi Empirik Prasangka Dalam Berbagai Aspek Kehidupan Orang Indonesia (Jakarta: Rajawali Press, 2006), h. 96.

[5] Ibid., h. 97.

[6] Paul Vitz merumuskan teori ateisme dari pandangan psikoanalisis Freud – dari Oedipus Complex. Ia menggabungkannya dengan pandangan pribadi Freud tentang proyeksi “pemuasan keinginan”. Di samping proyeksi tentang agama, sekarang ada proyeksi tentang ateisme. Chandra, “Surat Untuk Atheis,” artikel diakses tanggal 9 Januari 2008 dari http://swaramuslim.net/more.php?id=A437_0_1_0_M.

Purwanto menyimpulkan bahwa dinamika ateisme dalam ilmu eksakta dan ilmu sosial sangat berbeda. Ilmu sosial yang sedikit banyak tergambar dalam psikologi, lebih bersifat menyerang paham keagamaan dalam konteks keilmuan. Maka itu, paham ateistik dalam ilmu sosial sangat masif hingga akhirnya bisa saja mereka menyokong suatu teori, semata-mata teori itu menganggungkan ateisme. Ini terjadi jelas pada darwinisme, sekalipun banyak bukti ilmiah menolaknya, teori evolusi toh masih langgeng. Pengakuan Michael Walker juga memperkuat fenomena, ketika ia terpaksa menyimpulkan teori Darwin, hanya karena dianggap meniadakan sang pencipta. Purwanto, Epistemologi Psikologi Islami, h. 16.

[7] Anthony Storr, Freud: Peletak dasar Psikoanalisis. Penerjemah Dean Praty R (Jakarta: Grafiti, 1991), h. 115.

BELAJAR PSIKOLOGI WANITA DARI UMMI KHADIJAH BINTI KHUWAILID radhiallâhu 'anha (Bagian I)

Oleh : Pizaro
Mahasiswa Bimbingan dan Penyuluhan Islam
Fak. Dakwah dan Komunikasi UIN Jakarta

Psikologi Wanita adalah keteladanan

Dalam konten psikologi Islami, semangat dari psikologi wanita adalah keteladanan. Cara ini dengan mudah untuk di pahami, karena kita dapat melihat realitas yang ada dari tokoh muslimah yang memberikan contoh berakhlak yang baik sebagai wanita. Dalam kesempatan ini, penulis coba akan mengangkat Khadijah binti Khuwailid sebagai jalan menemukan itu.

Istri nabi Muhammad yang pertama ini diangkat semata-mata telah memberikan tafsiran ulang mengenai arti seorang wanita bagi kita semua. Wanita yang tersudutkan terhadap definisi kecantikan dan muda secara empirik, namun terlempar dari fakta keteladanan bagi dinamika kehidupan. Ummi Khadijah bagai dahaga bagi kaum muslim, karena walaupun secara umur jauh diatas Nabi Muhammad dan dapat dibilang sedang melewati masa tua, namun api jiwa enerjiknya terus menyala walau telah disiram “air” setiap saat. Ini penting bagi kita yang justru menaruh makna masa tua sebagai menurunnya aktivitas dan spirit.

Sejatinya masa tua adalah masa penuh kreativitas, masa penuh memberi sumbangsih bagi masyarakat, masa membentuk tujuan mulia di sela-sela kehidupan, bukan masa stagnasi dan persistensi, begitulah dikatakan Erik Hamburger Erikkson dengan skema generativitas dan stagnasinya. Kita akan belajar psikologi itu dengan dosen kita kali ini adalah Khadijah binti Khuwailid.

Asam Garam seorang Istri

Beliau adalah seorang sayyidah wanita sedunia pada zamannya. Dia adalah putri dari Khuwailid bin Asad bin Abdul Uzza bin Qushai bin Kilab al-Qurasyiyah al-Asadiyah. Dijuluki ath-Thahirah yakni yang bersih dan suci. Sayyidah Quraisy ini dilahirkan di rumah yang mulia dan terhormat kira-kira 15 tahun sebelum tahun fill (tahun gajah). Beliau tumbuh dalam lingkungan keluarga yang mulia dan pada gilirannya beliau menjadi seorang wanita yang cerdas dan agung. Beliau dikenal sebagai seorang yang teguh dan cerdik dan memiliki perangai yang luhur. Karena itulah banyak laki-laki dari kaumnya menaruh simpati kepadanya.

Pada mulanya beliau dinikahi oleh Abu Halah bin Zurarah at-Tamimi yang membuahkan dua orang anak yang bernama Halah dan Hindun.Tatkala Abu Halah wafat, beliau dinikahi oleh Atiq bin 'A'id bin Abdullah al-Makhzumi hingga beberapa waktu lamanya namun akhirnya mereka cerai.

Setelah itu banyak dari para pemuka-pemuka Quraisy yang menginginkan beliau tetapi beliau memprioritaskan perhatiannya dalam mendidik putra-putrinya, juga sibuk mengurusi perniagaan yang mana beliau menjadi seorang yang kaya raya. Suatu ketika, beliau mencari orang yang dapat menjual dagangannya, maka tatkala beliau mendengar tentang Muhammad sebelum bi'tsah (diangkat menjadi Nabi), yang memiliki sifat jujur, amanah dan berakhlak mulia, maka beliau meminta kepada Muhammad untuk menjualkan dagangannya bersama seorang pembantunya yang bernama Maisarah. Beliau memberikan barang dagangan kepada Muhammad melebihi dari apa yang dibawa oleh selainnya. Muhammad al-Amin pun menyetujuinya dan berangkatlah beliau bersama Maisarah dan Allah menjadikan perdagangannya tersebut menghasilkan laba yang banyak. Khadijah merasa gembira dengan hasil yang banyak tersebut karena usaha dari Muhammad, akan tetapi ketakjubannya terhadap kepribadian Muhammad lebih besar dan lebih mendalam dari semua itu. Maka mulailah muncul perasaan-perasaan aneh yang berbaur dibenaknya, yang belum pernah beliau rasakan sebelumnya. Pemuda ini tidak sebagamana kebanyakan laki-laki lain dan perasaan-perasaan yang lain.

Kepercayaan Diri seorang Wanita

Suatu kali Ummi Khadijah merasa pesimis; apa mungkin pemuda tersebut mau menikahinya, mengingat umurnya sudah renta, bayangkan 40 tahun? Apa kata orang-orang nantinya karena ia telah menutup pintu bagi para pemuka Quraisy yang melamarnya?

Maka disaat dia bingung dan gelisah karena problem yang menggelayuti pikirannya, tiba-tiba muncullah seorang temannya yang bernama Nafisah binti Munabbih, selanjutnya dia ikut duduk dan berdialog hingga kecerdikan Nafisah mampu menyibak rahasia yang disembuyikan oleh Khodijah tentang problem yang dihadapi dalam kehidupannya. Nafisah layaknya konselor mencoba membesarkan hati Khadijah dan menenangkan perasaannya dengan mengatakan bahwa Khadijah adalah seorang wanita yang memiliki martabat, keturunan orang terhormat, memiliki harta dan berparas cantik.Terbukti dengan banyaknya para pemuka Quraisy yang melamarnya.

Selanjutnya, tatkala Nafisah keluar dari rumah Khadijah, dia langsung menemui Muhammad al-Amin hingga terjadilah dialog yang menunjukan kelihaian dan kecerdikannya:

Nafisah : Apakah yang menghalangimu untuk menikah wahai Muhammad?

Muhammad : Aku tidak memiliki apa-apa untuk menikah .

Nafisah : (Dengan tersenyum berkata) Jika aku pilihkan untukmu seorang wanita yang kaya raya, cantik dan berkecukupan, maka apakah kamu mau menerimanya?

Muhammad : Siapa dia ?

Nafisah : (Dengan cepat dia menjawab) Dia adalah Khadijah binti Khuwailid

Muhammad : Jika dia setuju maka akupun setuju.

Nafisah pergi menemui Khadijah untuk menyampaikan kabar gembira tersebut, sedangkan Muhammad al-Amin memberitahukan kepada paman-paman beliau tentang keinginannya untuk menikahi sayyidah Khadijah. Kemudian berangkatlah Abu Tholib, Hamzah dan yang lain menemui paman Khadijah yang bernama Amru bin Asad untuk melamar Khadijah bagi putra saudaranya, dan selanjutnya menyerahkan mahar.

Maka jadilah Sayyidah Quraisy sebagai istri dari Muhammad al-Amin dan jadilah dirinya sebagai contoh yang paling utama dan paling baik dalam hal mencintai suami dan mengutamakan kepentingan suami dari pada kepentingan sendiri. Manakala Muhammad mengharapkan Zaid bin Haritsah, maka dihadiahkanlah oleh Khadijah kepada Muhammad. Demikian juga tatkala Muhammad ingin mengembil salah seorang dari putra pamannya, Abu Tholib, maka Khadijah menyediakan suatu ruangan bagi Ali bin Abi Tholib radhiallâhu 'anhu agar dia dapat mencontoh akhlak suaminya, Muhammad Shallallahu 'alaihi wasallam.

Di sinlah letak keberanian dan bentuk PD seorang wanita yang tidak harus dipusingkan dengan kecantikkan dan melulu ingin merasa muda secara fisik. Karena bagi Ummi segalanya adalah kedewasaan hati dan keikhlasan atas potensi diri yang membuatnya yakin bahwa Muhammad adalah pilihan terbaik dan mau meminangnya.

Sebuah Komitmen Teguh

Jika Sternberg memberi sinyal komitmen adalah bagian inti dari cinta sejati, namun tak ada orang selain Khadijah yang memberikan komitmen melebihi garis yang didefinisikan Sternberg. Suatu ketika Allah Ta'ala menjadikan Muhammad al-Amin ash-Shiddiq menyukai Khalwat (menyendiri), bahkan tiada suatu aktifitas yang lebih ia sukai dari pada menyendiri. Beliau menggunakan waktunya untuk beribadah kepada Allah di Gua Hira' sebulan penuh pada setiap tahunnya. Beliau tinggal didalamnya beberapa malam dengan bekal yang sedikit jauh dari perbuatan sia-sia yang dilakukan oleh orang-orang Makkah yakni menyembah berhala dan lain –lain.

Sayyidah ath-Thahirah tidak merasa tertekan dengan tindakan Muhammad yang terkadang harus berpisah jauh darinya, tidak pula beliau mengusir kegalauannya dengan banyak pertanyaan maupun mengobrol yang tidak berguna, bahkan beliau mencurahkan segala kemampuannya untuk membantu suaminya dengan cara menjaga dan menyelesaikan tugas yang harus dia kerjakan dirumah. Apabila dia melihat Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam pergi ke gua, kedua matanya senantiasa mengikuti suaminya terkasih dari jauh. Bahkan dia juga menyuruh orang-orang untuk menjaga beliau tanpa mengganggu suaminya yang sedang menyendiri.

Ketika Rasullullah mulai mendekam di Gua Hira dan mendapatkan wahyu yang membuat Rasululah ketakutan dengan minta untuk diselimutkan. Maka Istri yang dicintainya dan yang cerdas itu menghiburnya dengan percaya diri dan penuh keyakinan, berkatalah ia: "Allah akan menjaga kita wahai Abu Qasim, bergembiralah wahai putra pamanku dan teguhkanlah hatimu. Demi yang jiwaku ada ditangan-Nya, sugguh aku berharap agar anda menjadi Nabi bagi umat ini. Demi Allah, Dia tidak akan menghinakanmu selamanya, sesungguhnya anda telah menyambung silaturahmi, memikul beban orang yang memerlukan, memuliakan tamu dan menolong para pelaku kebenaran.

Maka menjadi tentramlah hati Nabi berkat dukungan ini dan kembalilah ketenangan beliau karena pembenaran dari istrinya dan keimanannya terhadap apa yang beliau bawa. Sebagai istri, khadijah tahu betul psikologis Rasulullah dan apa yang diinginkan sang suami jika mendalami situasi mencekam yaitu sifat menghibur dan memberi situasi nyaman.

Khadijah akhirnya merubah mindset gagi kita, jika istri tidak lantas menjadi redup jika sang suami mengalami kesulitan. Akan tetapi, situasinya harus melengkapi dan khadijah melalukan itu dengan terkesan menjadi “suami” bukan istri dalam definisi sempit. Inilah sebuah pencerdasan paradigma perempuan untuk bersama-sama kontrukstif dalam bingkai rumah tangga. Tdiak lantas surut ketika situasi sang suami ditimpa musibah. Karena suami bukanlah segala-galanya, ia juga makhluk lemah, bisa sakit, dan sewaktu-waktu bisa meninggalkan kita semua.