03 March 2008

BELAJAR PSIKOLOGI WANITA DARI UMMI KHADIJAH BINTI KHUWAILID radhiallâhu 'anha (Bagian II)

Oleh Pizaro
Mahasiswa Bimbingan dan Penyuluhan Islam
Fak. Dakwah dan Komunikasi UIN Jakarta

Afek Kognisi sebagai ikhtiar Cinta

Fromm pernah mendelegasikan bahwa unsur pengetahuan penting dalam memberi sentuhan cinta positif, artinya pengetahuan mengenai karakter pasangan akan turut melanggengkan cinta itu sendiri. Ini dilakukan Khadijah ketika melihat tabiat Muihammad pasca dari Gua Hira menrima Wahyu (Dan dicekek lehernya oleh Jibril). Istri yang cerdas dan bijaksana itu dengan segera pergi menemui putra pamannya yang bernama waraqah bin Naufal, kemudian beliau ceritakan perihal yang terjadi pada Muhammad Shallallahu 'alaihi wasallam. Maka tiada ucapan yang keluar dari mulutnya selain perkataan: "Qudus….Qudus…..Demi yang jiwa Waraqah ada ditangan-Nya, jika apa yang engkau ceritakan kepadaku benar,maka sungguh telah datang kepadanya Namus Al-Kubra sebagaimana yang telah datang kepada Musa dan Isa, dan Nuh alaihi sallam secara langsung.Tatkala melihat kedatangan Nabi, sekonyong-konyong Waraqah berkata: "Demi yang jiwaku ada ditangan-Nya, Sesungguhnya engkau adalah seorang Nabi bagi umat ini, pastilah mereka akan mendustakan dirimu, menyakiti dirimu, mengusir dirimu dan akan memerangimu. Seandainya aku masih menemui hari itu sungguh aku akan menolong dien Allah ". Kemudian ia mendekat kepada Nabi dan mencium ubun-ubunnya. Maka Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: " Apakah mereka akan mengusirku?". Waraqah menjawab: "Betul, tiada seorang pun yang membawa sebagaimana yang engkau bawa melainkan pasti ada yang menentangnya. Kalau saja aku masih mendapatkan masa itu …kalau saja aku masih hidup…". Tidak beberapa lama kemudian Waraqah wafat.

Menjadi tenanglah jiwa Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam tatkala mendengar penuturan Waraqah, dan beliau mengetahui bahwa akan ada kendala-kendala di saat permulaan berdakwah, banyak rintangan dan beban. Beliau juga menyadari bahwa itu adalah sunnatullah bagi para Nabi dan orang-orang yang mendakwahkan dien Allah. Maka beliau menapaki jalan dakwah dengan ikhlas semata-mata karena Allah Rabbul Alamin, dan beliau mendapatkan banyak gangguan dan intimidasi.

Adapun Khadijah adalah seorang yang pertama kali beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan yang pertama kali masuk Islam.

Perpaduan Arti Cinta Sejati Bagi Muslim

Wanita pebisnis ini adalah seorang istri Nabi yang mencintai suaminya dan juga beriman, berdiri mendampingi Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam yang dicintainya untuk menolong, menguatkan dan membantunya serta menolong beliau dalam menghadapi kerasnya gangguan dan ancaman sehingga dengan hal itulah Allah meringankan beban Nabi-Nya. Tidaklah beliau mendapatkan sesuatu yang tidak disukai, baik penolakan maupun pendustaan yang menyedihkan beliau Shallallahu 'alaihi wasallam kecuali Allah melapangkannya melalui istrinya bila beliau kembali ke rumahnya. Beliau (Khadijah) meneguhkan pendiriannya, menghiburnya, membenarkannya dan mengingatkan tidak berartinya celaan manusia pada beliau Shallallahu 'alaihi wasallam. Dan ayat-ayat Al-Qur'an juga mengikuti (meneguhkan Rasulullah), Firman-Nya:

"Hai orang-orang yang berkemul (berselimut), bangunlah, lalu berilah peringatan! Dan Rabb-Mu agungkanlah, dan pakaianmu bersihkanlah, dan perbuatan dosa tinggalkanlah, dan janganlah kamu memberi (dengan maksud) memperoleh (belasan) yang lebih banyak. Dan untuk (memenuhi perintah) Rabb-Mu, bersabarlah!"(Al-Muddatstsir:1-7).

Sehingga sejak saat itu Rasulullah yang mulia memulai lembaran hidup baru yang penuh barakah dan bersusah payah. Beliau katakan kepada sang istri yang beriman bahwa masa untuk tidur dan bersenang-senang sudah habis. Khadijah radhiallâhu 'anha turut mendakwahkan Islam disamping suaminya -semoga shalawat dan salam terlimpahkan kepada beliau. Diantara buah yang pertama adalah Islamnya Zaid bin Haritsah dan juga keempat putrinya semoga Allah meridhai mereka seluruhnya.

Mulailah ujian yang keras menimpa kaum muslimin dengan berbagai macam bentuknya,akan tetapi Khadijah berdiri kokoh bak sebuah gunung yang tegar kokoh dan kuat. Beliau wujudkan Firman Allah Ta'ala:

"Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: 'Kami telah beriman' , sedangkan mereka tidak diuji lagi?" . (Al-'Ankabut:1-2).

Allah memilih kedua putranya yang pertama Abdullah dan al-Qasim untuk menghadap Allah tatkala keduanya masih kanak-kanak, sedangkan Khadijah tetap bersabar. Beliau juga melihat dengan mata kepalanya bagaimana syahidah pertama dalam Islam yang bernama Sumayyah tatkala menghadapi sakaratul maut karena siksaan para thaghut hingga jiwanya menghadap sang pencipta dengan penuh kemuliaan.

Beliau juga harus berpisah dengan putri dan buah hatinya yang bernama Ruqayyah istri dari Utsman bin Affan radhiallâhu 'anhu karena putrinya hijrah ke negeri Habsyah untuk menyelamatkan diennya dari gangguan orang-orang musyrik. Beliau saksikan dari waktu ke waktu yang penuh dengan kejadian besar dan permusuhan. Akan tetapi tidak ada kata putus asa bagi seorang Mujahidah. Beliau laksanakan setiap saat apa yang difirmankan Allah Ta'ala :

"Kamu sungguh-sungguh akan duji terhadap hartamu dan dirimu. Dan (juga) kamu sungguh-sungguh akan mendengar dari orang-orang yang diberikan kitab sebelum kamu dan dari orang-orang yang mempersekutukan Allah, ganguan yang banyak yang menyakitkan hati. Jika kamu bersabar dan bertakwa, maka sesungguhnya yang demikian itu termasuk urusan yang di utamakan ". (Ali Imran:186).

Sebelumnya, beliau juga telah menyaksikan seluruh kejadian yang menimpa suaminya al-Amin ash-Shiddiq yang mana beliau berdakwah di jalan Allah, namun beliau menghadapi segala musibah dengan kesabaran. Semakin bertambah berat ujian semakin bertambahlah kesabaran dan kekuatannya. Beliau campakkan seluruh bujukan kesanangan dunia yang menipu yang hendak ditawarkan dengan aqidahnya. Dan pada saat-saat itu beliau bersumpah dengan sumpah yang menunjukkan keteguhan dalam memantapkan kebenaran yang belum pernah dikenal orang sebelumnya dan tidak bergeming dari prinsipnya walau selangkah semut. Beliau bersabda: "Demi Allah wahai paman! seandainya mereka mampu meletakkan matahari di tangan kananku dan bulan di tangan kiriku agar aku meninggalkan urusan dakwah ini, maka sekali-kali aku tidak akan meninggalkannya hingga Allah memenangkannya atau aku yang binasa karenannya".

Begitulah Sayyidah mujahidah tersebut telah mengambil suaminya Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam sebagai contoh yang paling agung dan tanda yang paling nyata tentang keteguhan diatas iman. Oleh karena itu, kita mendapatkan tatkala orang-orang Quraisy mengumumkan pemboikotan mereka terhadap kaum muslimin untuk menekan dalam bidang politik, ekonomi dan kemasyarakatan dan mereka tulis naskah pemboikotan tersebut kemudian mereka tempel pada dinding ka'bah; Khadijah tidak ragu untuk bergabung dengan kaum muslimin bersama kaum Abu Thalib dan beliau tinggalkan kampung halamannya untuk menempa kesabaran selama tiga tahun bersama Rasul dan orang-orang yang menyertai beliau menghadapi beratnya pemboikotan yang penuh dengan kesusahan dan menghadapi kesewenang-wenangan para penyembah berhala. Hingga berakhirlah pemboikotan yang telah beliau hadapi dengan iman, tulus dan tekad baja tak kenal lelah. Sungguh Sayyidah Khadijah telah mencurahkan segala kemampuannya untuk menghadapi ujian tersebut di usia 65 tahun. Selang enam bulan setelah berakhirnya pemboikotan itu wafatlah Abu Thalib, kemudian menyusul seorang mujahidah yang sabar -semoga Allah meridhai beliau- tiga tahun sebelum hijrah.

Dengan wafatnya Khadijah maka meningkatlah musibah yang Rasul hadapi. Karena bagi Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam, Khadijah adalah teman yang tulus dalam memperjuangkan Islam.

Begitulah Nafsul Muthmainnah telah pergi menghadap Rabbnya setelah sampai pada waktu yang telah ditetapkan, setelah beliau berhasil menjadi teladan terbaik dan paling tulus dalam berdakwah di jalan Allah dan berjihad dijalan-Nya. Dalalm hubungannya, beliau menjadi seorang istri yang bijaksana, maka beliau mampu meletakkan urusan sesuai dengan tempatnya dan mencurahkan segala kemamapuan untuk mendatangkan keridhaan Allah dan Rasul-Nya. Karena itulah beliau berhak mendapat salam dari Rabb-nya dan mendapat kabar gembira dengan rumah di surga yang terbuat dari emas, tidak ada kesusahan didalamnya dan tidak ada pula keributan didalamnya. Karena itu pula Rasulullah bersabda: "Sebaik-baik wanita adalah Maryam binti Imran, sebaik-baik wanita adalah Khadijah binti Khuwailid".

Jika saat ini setiap muslim terus belajar untuk mengikuti petunjuk Rasulullah. Maka, wanita mempunyai tugas ganda, ia haruslah juga belajar dari seorang Khadijah mengenai psikologi wanita dalam memberikan arti cinta sejati kepada Rasulullah SAW. Arti cinta yang menjadi petunjuk bagi setiap istri dewasa ini yang banyak mengeluh kepada suami dan kehidupan.

Tidakkah kita melihat ketulusan dan rasa cinta sejati di sbuah wajah bernama Ummi Khadijah..

Ya Allah ridhailah Khadijah binti Khuwailid, As-Sayyidah Ath-Thahirah. Seorang istri yang setia dan tulus, mukminah mujahidah di jalan diennya dengan seluruh apa yang dimilikinya dari perbendaharaan dunia. Semoga Allah memberikan balasan yang paling baik karena jasa-jasanya terhadap Islam dan kaum muslimin.

22 February 2008

SURAT DARI JOGJA UNTUK AKHINA PIZARO (KETUA FKM): TANGGAPAN KEDUA

Oleh: Alicia Baldan (Mahasiswa Tk. Akhir UGM yang mencintai kebenaran)

Kamu nggak Fair,

hanya memakai nama-nama aman (Goleman and Badri)

untuk mengulas Freud.

Kenapa kamu gak sebut Brill

yang sebelumnya kamu kupas di tulisanmu.

Psikoooooolllloggggiiiii gggguuuuaaaaaa bannnngggetttttttt

Assalamualaikum Akhina....

Salam Hormat dan Salam Kenal. Maaf namaku Alicia Baldan Putri, bukan Alika Baldan. But Wow tampaknya terimakasih kembali untuk kamu yang memberikan sinyal positif bahwa anda memang intelektualis sepertinya. Haha jangan bawa-bawa pak Hadi dong, aku jadi malu. Begini kawan aku juga terkesan menjadi Freudian ya? aku mohon kamu sisihkan itu. Hehe aku bukan Freudianistik kok. Aku minta maaf jika sebelumnya enggan membuka kartu.

Aku mau bilang gini kayaknya aku ketipu deh.. Aku dah perhatikan blog kamu kira-kira sekitar sebulan ini. Aku sempet senang, ketika membaca tulisan-tulisanmu yang banyak sekali mengulas Freud, palagi bilangnnya peminat kajian psikodinamika. Bayanganku, kayaknya kamu enak diajak ngobrol masalah Freud. Namun ketika kamu menulis tentang kritik psikologi Islami, Hahhh... kayaknya dugaan gua salah deh. Sebenarnya sih, judulnya masih ditolerir, tapi kemarin saat aku tanggapi tulisanmu itu. Kamu malah balik menjadi ”teroris” Psikoanalisis. Haahhhh.. Aku gak nyangka ternyata kamu anti Freud. Akan tetapi, aku juga senang, artinya asyik neh ada lawan tanding. Because what? Because jilbaber-jilbaber UGM dah aku bantai semua, keplek-keplek aku benturin sama rasio Freud. Semoga nasibmu tidak sama dengan mereka. aku optimis apalagi ngeliat jawabanmu kemarin. Kayaknya Kak Pizaro (begitu ya, Sisy memanggilmu?) bukan UIN sembarangan neh. Gua tau deh, UIN Man..!!

Balik ke diskusi. Aku heran dengan jawabanmu kemarin, tampaknya kita masih perlu diskusi epistemologi. Aku kembali tanya kepadamu. Kamu tahu enggak jika kritikus masakan bukanlah peneliti? Aku pikir analogimu itu justru sebuah kekeliruan. Analoginya begini, apakah kritik dari kritikus masakan dapat menjadi berarti universal? Apakah enak yang dirasakan kita, menjdi enak di lidah orang lain? Bukankah itu hanya berdimensi individualistik? Hmmm Psikoanalisis bukan masakan bung, cos Namanya Psikodinamika. You know!

Btw tampaknya anda terlalu memojokkan materialisme dalam hal ini. Aku gak perlu dengan rasio hadis or dogma akhiroh. Di mana-mana, ketika dogma hadir dalam sebah diskusi, aku khawatir, diskusi kita akan selsai. Dan semua orang akan bilang Yes! Islam menang. Wait the minute, I don’t hope so. Nietszche said God is Death. Bukannya Islam juga menghargai materiaslime, yah minimal buku rektormu Psikologi Kematian, di mana mati (in materil) akan menjadi petualangan psikologis umat beragama. Ketika itu memotivasi manusia untuk banyak mendapatkan pahala dengan motivasi ilusi surgawi.

Satu hal, Aku lebih senang jika kamu memakai logika Descartes dalam menjelasan Ghazali, ketimbang mencari benang terlalu jauh ke Abad 14 (baca: Hadis). Ini karena kita sekedar berbicara konsep falsafati, bukan worldview ajeg yang justru menjadi senjatamu.

Aku pikir dalam suatu diskusi epistemologi, adalah bijak jika masing-masing kita mengeksplor dulu pemikiran masing-masing, bukan kemudian kamu telanjangi aku dengan pembelaan-pembelaan “transendemtal”. Wow gua cewek.. “malu” dong.

Jangan lupa Freud juga menjdi mazhab di tengah cercaan-nya. Dan sepenuhnya orang-orang kayak kamu gak peralu risih. Pak Nasaruddin Umar (Kalau kamu pake senjata pak Hadi, aku pakai Pak Nasarruddin yang dari UIN, Hehehe... UIN 1-UGM 1) mengambil langkah bijak ketika para feminis menyerang Freud. Lo tahu dia bilang bahwa apa yang dikatakan Freud, justru harus menjadi tantangan bagi kaum perempuan untuk membuktikan perkataan Freud tidak benar dengan serentetan penelitian. Nah aku tidak mendapat kepuasan dari sisi ini, pada orang-orang sepertimu yang mengkritik Freud.

Jika Islam menghargai pengetahuan, buktikan dong.. Yang terjadi sekarang kan kebalik, malah kaum Barat yang melakukan penelitian untuk membantah Freud. Frankl, ya kan? Kamu pasti tahu, kamu Franklian kan?

Aku tidak mendengar ada ekspos dari Ilmuwan Muslim yang melakukn penelitian ilmiah untuk membuktikan Qur’an dalam konten psikologis (bukannya kayak kaum alim UGM, yang skripsinya kurang kerjaan, neliti sholat sama kecemasan-lah, zikir dengan motivasi lah. Jelas dong hasilnya lebih memihak kepada mereka. Kesannya psikologi Islam itu kerjaannya Sholat, Zikir, Zakat doang Apa?). Apalagi ada kata-kata Islam anti postivistik, wah bahaya tuh. Lo tahu gak? Dosen gua banyak yang terkesan begitu tuh. Semoga Kak Pizaro gak kaya gitu yah. Iya lah UIN Man!!!

Kamu nggak Fair, hanya memakai nama-nama aman (Goleman and Badri) untuk mengulas Freud. Kenapa kamu gak sebut Brill yang sebelumnya kamu kupas di tulisanmu. Kenapa kamu gak sebut Melanie Klein untuk mendefenesikan Freud sebagai sebuah peradaban. Kenapa kamu gak sebut Karl Abraham dengan temuannya. Why? Apa karena mereka menjadi penggemar Freud dan mesti diakui membawa peubahan mindset Psikodinamika setelah Freud. Kamu gak fair kak Pizaro.

Sok monggo kamu baca tanggapan dari ku ini. Jangan bosan-bosan yuach... sama aku. Oya nomor lo rapa sih, gua kontak gak nyambung.

20 February 2008

Sastra Islami sebagai Dakwah


Oleh : Muhammad Taher Soleh

Alumnus BPI UIN Jakarta

Awal tahun dua ribu enam lalu dunia sastra didera shock therapy dengan hadirnya buku-buku prosa baik itu novel dan cerpen yang ditulis penulis-penulis muslim, di antara mereka yang mendapat sambutan hangat dari pembacanya ialah buku Ayat-Ayat Cinta dan Di Atas Sajadah Cinta karangan Habiburrahman el-Shirazy, kemudian muncul pelbagai judul novel “berbau” cinta, dari mulai Zikir-Zikir Cinta karangan Anam Khoirul Anam, Kasidah Cinta karya Muhammad Muhyidin, Musafir Cinta karya Taufiqurahman Al Aziz (trilogy) hingga karya terbaru juga dari Habiburrahman E-Shirazy yang kembali menjadi best seller, Ketika Cinta Bertasbih.

Pada cerpen pun mengalami peningkatan dengan munculnya cerpenis-cerpenis muda jauh sebelum “sastra tema cinta” di atas lahir. Nama-nama seperti, Helvy Tiana Rosa, Izzatul Jannah, Asma Nadia, Muhammad Yulius, dan Dian Yasmina Fajri telah akrab di telinga para penikmat sastra di Indonesia. Tentunya tema yang diangkat dalam cerpen-cerpen mereka tidak lepas dari muatan dakwah, kental dengan nuansa Islam. Tema-tema cinta, pergaulan, dan seks yang demikian “liar” dan penuh dengan derajat nafsu antara laki-laki dan perempuan disajikan sedemikian halus, indah, penuh spiritualitas. Agama mereka ungkapkan secara sengaja dalam sastra tetapi estetis tidak menabrak demarkasi antara nilai sastra itu sendiri dengan agama, bedakan tatkala kita membaca buku agama yang benar-benar nyata nuansa rabbaninya.

Dengan mainstream seperti ini maka banyak pengamat sastra melihat bahwasanya telah muncul genre sastra baru yang mampu menghadirkan suasana baru dalam dunia sastra dan semakin memperkaya khazanah kesusastraan Indonesia. Dengan beragam istilah genre ini dimunculkan : Sastra Pencerahan (Danarto), Sastra Profetik (Kuntowijoyo), Sastra Sufistik (Abdul Hadi), Sastra Dzikir (Taufik Ismail), sastra Transenden (Sutardzi Calzoem Bachri),[1] hingga Sastra Islam. Substansinya dimaknai sebagai sastra yang berlandaskan kepada ahklak Islam, dari segi cerita, kecantikan diksi (pemilihan kata), sampai penokohan yang benar-benar menghadirkan tauladan bagi pembaca. Sangat berbeda bila dibandingkan dengan tema-tema sastra yang diusung oleh Ayu Utami (Saman dan Larung) dan Djenar Maesa Ayu (Mereka Bilang Saya Monyet) yang lebih “vulgar”, berani dan “terbuka”[2], maka genre sastra ini lebih halus dengan pemaknaan terhadap sastra yang demikian religius.

Dengan perkembangan yang sangat cepat, kehadiran novel dan cerpen yang bernafaskan Islam ini--selanjutnya penulis menggunakan istilah sastra islam--tak pernah berhenti dilahirkan oleh para penulis muda muslim.[3] Karya sastra islam seperti air yang mengalir deras, ribuan orang berjejal memborong buku-buku Islam di pameran. Semakin banyak sastra islam dihasilkan menandakan bahwasanya masa ini adalah masa kejayaan sastra islam, apalagi jika melihat segmen pasar di Indonesia yang mayoritas muslim memungkinkan masa keemasan ini akan lama bertahan.

Dengan melihat kondisi di atas dunia tulis menulis (sastra) tentunya bisa dijadikan sarana dakwah dengan berbagai kelebihannya yakni menjangkau audiens yang lebih luas dalam masa yang lebih panjang.[4] Dengan aksentuasi (titik berat) seimbangnya pemahaman akan agama dan pengetahuan mendalam tentang sastra harus dimiliki oleh para penulis. Peran ini pun telah dilakukan dan masih diperjuangkan oleh para pejuang tinta senior dalam kesusastraan Indonesia, sebut saja Taufik Ismail dan Emha Ainun Najib.[5] Peran novel dan cerpen islam kini bukanlah menjadi bacaan semata melainkan sudah menjadi metode penyejuk hati.

Di dalam sastra genre ini terkandung message bimbingan rohani, pendidikan, pengajaran, kisah-kisah, dan pesan-pesan positif yang bisa dijadikan pedoman dalam kehidupan.yang mampu membantu individu (pembacanya) melihat persoalan kehidupan, lika-liku pergaulan yang kemudian diatasi secara islami oleh sang pengarang.[6] Bentuk dakwah--dalam hal ini cenderung pada metode Mau’idzah al-hasanah, tutur kata yang lembut sehingga akan terkesan di hati.[7]-- ini begitu pesat perkembangannya sehingga banyak bermunculan penulis-penulis muda potensial yang karyanya tidak dapat dianggap murahan atau tak berkualitas tetapi karya yang mampu menginternalisasikan nilai-nilai Islam ke dalam dirinya, prilaku, dan tulisannya. Sehingga segalanya menjadi nilai ibadah kepada Allah SWT. Dalam Al-Qur’an Al-Karim Allah SWT berfirman dalam Surat Al-Ahzaab (33: 70-71)

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar (70). Niscaya Allah memperbaiki bagimu amalan-amalanmu dan mengampuni bagimu dosa-dosamu. dan barangsiapa mentaati Allah dan Rasul-Nya, Maka Sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang besar (71)”.[8]

Dengan hadirnya sastra genre ini diharapkan mampu menjadi penyaring sajian-sajian tak mendidik dan merusak moral di media cetak dan media elektronik. Zakiah Daradjat dalam bukunya Ilmu Jiwa Agama merumuskan beberapa cara menghadapi bahayanya moral diantaranya perlu adanya saringan atau seleksi terhadap kebudayaan selain itu pendidikan agama harus diintensifkan baik itu melalui pendidikan agama di rumah, sekolah atau pun lingkungan setempat melalui pengajaran atau buku-buku yang Islami.[9]

Seperti kita ketahui bersama bahwa kondisi moral bangsa sudah mengalami pergeseran, masyarakat sudah demikian patologis, kriminalitas di mana-mana, seks bebas menjalar, narkoba sudah menjadi kebiasaan muda-mudi, ditambah lagi budaya ketimuran yang mulai habis dikikis peradaban barat, menawarkan hedonisme dan konsumerisme. Tentunya persoalan ini banyak dialami oleh kaum muda yang demikian permissive akan sesuatu dan ini sangat berbahaya jika dakwah yang selama ini berkutat pada satu ragam wilayah harus diubah sesuai dengan minat dan kecendrungan remaja atas dasar kekinian.

Referensi bacaan yang selama ini menjadi konsumsi masyarakat tentunya jauh dari nilai-nilai religius—kecuali buku-buku agama dan motivasi. Sangat baik sekali apabila sastra menjadi salah satu “senjata” ampuh dalam deretan “senjata dakwah” lainnya.



[1] Budi P Hatees, “Sastra Religius dan Rimba Materialisme”, artikel diakses pada 3 April 2007 dari http://www.cybersastra.com

[2] Penulis-penulis generasi muda dijuluki Sastra Mazhab Selangkangan (SMS) atau Fiksi Alat Kelamin (FAK) oleh sastrawan Taufik Ismail dalam pidato kebudayaannya. Reiny Dwinanda, “Kebebasan Berekspresi, Polemik Tanpa Akhir”, Republika, 22 Juli 2007, h.B10

[3] Ahmadun Yosi Herfanda menulis bahwa pada awalnya fenomena fiksi (sastra) islami terutama memang lahir dari upaya membangun ruang alternatif bagi penulis muslim yang meyakini bahwa menulis adalah bagian dari upaya penyebaran nilai-nilai Islam, namun selanjutnya bisnis fiksi islami ini dicium oleh kapitalis penerbitan. Lihat “Kapitalisasi Sistem Produksi Sastra Kota,” Majalah Sastra Horison, No.9 (September 2004): h 21-26

[4] Dian Yasmina Fajri, dkk., Buku Sakti Menulis Fiksi, (Jakarta: PT.Kimus Bina Tadzkia, 2004), h.III

[5] Dalam sajak-sajak Taufik, latar belakang agama menjadi sikap dalam menghadapi masalah. Kendatipun kebanyakan pengarang kita beragama Islam, namun mereka yang secara sadar menggali keyakinan agama Islam-nya sebagai permasalahan dalam karya-karya sastranya tidaklah banyak. Lihat Ajip Rosidi, Sejarah Sastra Indonesia, (Jakarta: Bina Aksara, 1988), Cet.ke-2, h.57

[6] Menurut WS Rendra, sastra dan kesenian harus memberi arti kepada masyarakatnya. Penyair, seniman mempunyai fungsi “membimbing” atau memimpin perubahan masyarakat. Lihat Sutan Takdir Alisjahbana, Seni dan Sastera di Tengah-Tengah Pergolakan Masyarakat dan Kebudayaan, (Jakarta: Dian Rakyat, 1985), Cet.Ke-1, h.119

[7] Ali Mustafa Yakub, Sejarah dan Metode Dakwah Nabi, (Jakarta:Pustaka Firdaus, 1997), h.122

[8] Al-Qur’an dan Terjemahannya. Departemen Agama RI, penerbit PT.Syaamil Cipta Media, h.427

[9] Zakiah Daradjat, Ilmu Jiwa Agama, (Jakarta: Bulan-Bintang, 2005), Cet.Ke-17, h.155