02 November 2007

JATI DIRI MANUSIA

at 2:18 AM Oleh Prof Ahmad Mubarok*
Ada tiga pertanyaan abadi, yakni dari mana ? mau kemana ? dan untuk apa kehadiran manusia di pentas kehidupan. Pertanyaan pertama dan kedua sudah terjawab; orang beragama menyatakan bahwa manusia berasal dari Allah dan akan kembali kepada Nya, inna lillahi wa inna ilaihi raji`un. Orang Atheis menyatakan bahwa manusia hadir secara alamiah dan nanti akan hilang secara alamiah, tidak ada akhirat, tidak ada sorga ataupun neraka.

Pertanyaan ketigalah yang selalu mengelitik manusia sepanjang sejarah. Dalam keadaan tertentu orang sering mempertanyakan makna kehadiran dirinya, sehingga muncullah pertanyaan-pertanyaan; (a) untuk apa aku dilahirkan ? (b) untuk apa aku capai-capai ngurusin beginian ? (c) untuk apa semua yang telah kukerjakan ? (d) mengapa aku harus patuh ?, (e) untuk apa jujur jika semua pada korupsi ? . Di sisi lain ada yang bertanya-tanya : (f) kenapa ya kita selalu membela dia sampai hampir mati, padahal kita nggak dikasih apa-apa ? (g) kenapa kita sedih ketika dia mati ? (h) kenapa orang pergi haji suka menangis ? dan masih banyak lagi pertanyaan orang.

Kesemuanya itu sebenarnya berhubungan dengan apa yang disebut makna hidup, (the meaning of life). Manusia memang bukan saja makhluk biologis, tetapi juga makhluk yang bisa berfikir, merasa dan mengeti akan makna hidup. Terkadang atau kebanyakan orang lebih menonjol kebiologisannya, sehingga meski ia berpendidikan tetapi perilakunya tak lebih dari perilaku hewan. Ada yang seperti kambing (tidak bisa mendengar nasehat), ada yang seperti ular (licik), seperti ayam jago (free sex), seperti anjing (pendengki) dan ada yang seperti lalat (baik-buruk di embat semua). Adapun orang yang mengerti akan makna hidup maka ia mengerti akan makna pengorbanan, makna persahabatan, makna kesetiaan. Orang yang mengerti akan makna hidup sanggup untuk menderita demi kebahagiaan orang lain, sanggup menantang maut demi kehidupan orang lain, sanggup menderita di dunia demi kebahagiaan di akhirat.

Jati Diri Manusia Menurut Al Qur’an
Al Qur’an menyebut jati diri manusia dengan berbagai sebutan, sesuai dengan kualitas perilakunya , yaitu , mu’min, muslim, muttaqin, fasiq, munafiq, kafir, zalim, mukhlis, sabir, halim, hanif, jahil,

1. Musilim, Mu’min dan Muttaqin
Seorang muslim artinya orang yang telah berpasrah diri kepada Tuhan, tetapi dalam rangking manusia berkualitas, seorang yang baru pada tingkat muslim berada pada tingkatan terendah. Karakteristik seorang muslim adalah seorang yang telah meyakini supremasi kebenaran, berusaha untuk mengikuti jalan kebenaran itu, tetapi dalam praktek ia belum tangguh karena ia masih suka melupakan hal-hal yang kecil. Sedangkan seorang yang sudah mencapai kualitas mukmin adalah seorang muslim yang sudah istiqamah atau konsisten dalam berpegang kepada nilai-nilai kebenaran, sampai kepada hal-hal yang kecil. Ciri orang mukmin antara lain (1) hanya berbicara yang baik, (2) tidak menganggu orang lain, (3) merasa sependeritaan dengan mukmin yang lain, dan sebagainya. Sedangkan Muttaqin adalah orang mukmin yang telah menjiwai nilai-nilai kebenaran dan allergi terhadap kebatilan.

2. Fasiq, Kafir dan Munafiq.
Orang Fasiq adalah orang yang mengetahui dan meyakini supremasi nilai kebenaran, tetapi dalam kehidupan ia malas mengikutinya terutama jika bertentangan dengan dorongan syahwat/kesenangannya.

Adapun orang kafir adalah kebalikan dari orang mukmin. Jika orang mukmin konsisten dalam berpegang kepada kebenaran yang diimaninya dalam keadaan apapun, orang kafir konsisten dalam hal tidak mempercayai kepada nilai-nilai kebenaran. Secara terbuka ia menyatakan tidak percaya kerpada Tuhan, kepada dosa dan kepada kebajikan..

Sedangkan orang munafik, karakteristiknya dapat disebut sebagai orang yang bermuka dua, berbeda antara kata dan perbuatan. Jika orang kafir secara terbuka mengemukakan kekafirannya, orang munafik justeru menyembunyikan kemunafikannya. Secara lahir ia perlihatkan perilaku seakan-akan ia sama dengan orang mukmin yaitu mempercayai nilai-nilai kebenaran, padahal yang sebenarnya ia tidak percaya dan berusaha melecehkan kebenaran dibelakang penglihatan orang mukmin. Orang munafik tak ubahnya musuh dalam selimut, sehari-hari ia bersama kita padahal ia memusuhi kita, mencuri peluang untuk mencelakakan kita. Tanda-tanda orang munafik menurut hadis Nabi ada tiga, yaitu (1) jika berkata dusta, (2) jika berjanji ingkar, (3) jika dipercaya khianat.

Karena kualitas itu bersifat psikologis, maka jarak antara satu kualitas dengan kualitas yang lain tidaklah seterang warna hitam dan putih, oleh karena itu seorang mukmin boleh jadi pada dirinya masih terdapat karakter-karakter fasiq, nifaq atau bahkan kufur.

3. Mukhlis, Shabir dan Halim
Mukhlis, artinya orang yang ikhlas. Seorang dengan kualitas mukhlis adalah orang yang hatinya bersih dari keinginan memperoleh pujian. Semua perbuatannya, perkataannya, pemberiannya, penolakannya, perkataannya, diamnya, ibadahnya dan seterusnya, semata-mata dilakukan hanya untuk Allah SWT. Oleh karena itu baginya pujian orang tidak membuatnya berbangga hati, dan kekecewaan serta caci maki orang tidak membuatnya surut

Adapun shabir atau shabur, artinya adalah orang yang sabar atau penyabar. Menurut Imam Gazali, sabar artinya tabah hati tanpa mengeluh dalam menghadapi cobaan dan rintangan, dalam jangka waktu tertentu, dalam rangka mencapai tujuan. Jadi orang yang bisa sabar adalah orang yang selalu ingat kepada tujuan, karena kesabaran itu diperlukan adalah justeru demi untuk mencapai tujuan. Orang yang tidak sabar biasanya , karena lupa tujuan akhir, ia mudah terpedaya untuk melayani gangguan-gangguan yang tidak prinsipil, sehingga apa yang menjadi tujuan terlupakan dan segalanya menjadi berantakan.. Manusia dengan kualitas penyabar adalah sosok manusia yang ulet, tak kenal menyerah, tak kenal putus asa, dan tak kurang akal.. Al Qur’an menghargai manusia unggul yang penyabar, setara dengan seratus orang kafir (yang sombong, emosionil dan tak mempunyai nilai keruhanian) (Q/al Anfal, 65). Dalam keadaan normal. Al Qur’an menghargai peribadi penyabar setara dengan dua orang biasa (Q/8: 66).

Sedangkan manusia dengan kualitas halim, Al Qur’an memberi contoh sosok nabi Ibrahim. Dia adalah pribadi yang awwahun halim (Q/ at Taubah: 114). Nabi Ibrahim sebagai sosok model seorang yang berkualitas halim, memang sangat tepat, karena pada dirinya terkumpul sifat-sifat kecerdasan, kelembutan hati, belas kasih, dan perasaan mengkhawatirkan keadaan orang lain.. Ibrahim tidak memiliki perasaan marah dan benci termasuk kepada orang yang memusuhinya. Ketika Nabi Ibrahim lapor kepada Tuhan tentang kaumnya yang patuh dan yang durhaka, Nabi Ibrahim memohon kepada Tuhan agar mengampunni dan menyayangi kaumnya yang durhaka (faman tabi`ani fa innahu minni , waman `asoni fa innaka ghofu run rohiem (Q/14:36).

4. Zalim dan Jahil
Zalim (sewenang-wenang) dan jahil (bodoh) keduanya merupakan penyakit yang dalam bahasa Arab disebut maradl.. Jika adil mengandung arti menempatkan sesuatu pada tempatnya (proporsionil), maka perbuatan zalim artinya menempatkan sesuatu tidak pada tempatnya. Orang zalim melakukan sesuatu tidak pada tempatnya secara sadar, disebut juga sewenang-wenang, sedangkan orang jahil suka melakukan hal yang sama tetapi tanpa keasadarannya karena kebodohannya. Orang pandai terkadang melakukan perbuatan zalim , yang bisa juga disebut sebagai perbuatan bodoh. Orang bodoh yang baik hati itu lebih baik daripada orang pandai yang zalim. Kezaliman orang bodoh biasanya hanya sedikit dampaknya, tetapi kezaliman orang pandai bisa berdampak sangat luas.
posted by : Mubarok institute

* Guru Besar Psi. Islam UI, UIN, UIA

No comments: