07 November 2007

Kemana Filsafat Ilmu BPI?: Menuju Efektifitas Ilmu.

Pizaro*

Judul ini terasa menggelitik jika kita kaitkan dengan kondisi riil jurusan BPI di berbagai sudut, asumsi ini sebenarnya tercipta oleh gambaran mahasiswa dan system jurusan BPI yang berkembang kini. Pada substansinya asumsi ini akan menggiring kita kepada sebuah pemahaman baru.
BPI kita ketahui sebagai sebuah jurusan berlabel praktis banyak berbeda dari segi pembelajaran ketimbang jurusan yang lain, hal ini dapat dilihat dengan kaca mata sempit dari nama jurusan BPI sendiri yang tidak memakai kata ilmu di depannya . Pikiran kita lalu digiring untuk mencoba barfantasi nakal “apa karena ini keilmuan BPI terkesan mandeg”?
Kita tentu tidak boleh lupa dalam sebuah bingkai ilmu harus mempunyai essensi filsafat yang mapan, dengan singkat kita dapat melihat pada 3 komponen Filsafat Ilmu: Ontologi, Epistemologi dan Aksiologi. Ketiga hal inilah yang seakan “tertinggal” untuk dipikirkan di jurusan.
Wilayah ini jangankan untuk diperdebatkan, disinggung saja tampaknya masih terhitung langka. Apa indikatornya? Yupp, kita tidak mempunyai mata kuliah Filsafat Ilmu BPI hingga kini, bahkan Filsafat Ilmupun masih angan-angan, kita terseret untuk menggembangkan segi praktisnya. Lagi-lagi apa indikatornya? Kita hanya berhenti pada mata kuliah pengantar Filsafat dan Filsafat Manusia, serta Filsafat Dakwah dan asyik berkubang pada segi praktis.
Ekses dari hal ini tergambar jelas kepada bangunan BPI yang belum dirumuskan, kita masih belum bisa menyelesaikan “permasalahan intrernal” keilmuan BPI. Sebagai contoh mata kuliah yang mesti disambut baik, namun ujungnya jauh dari harapan, sebut saja Hadits BPI yang harusnya menyentuh lini vital Konseling Islam, akhirnya berubah menjadi mata kuliah hadis yang notabene sama dengan jurusan lain. Selain itu ada Tafsir BPI yang setali tiga uang dengan hal tersebut.
Perdebatan panjang yang harusnya melahirkan sebuah efektifitas ilmu, akan tetapi masih berlari mengelilingi bundaran tapi tidak bisa menyentuh titik tengah bundaran tersebut.
Tentu jika kita bandingkan dengan keilmuan lain di luar konteks keislaman, kita akan menemukan ketertinggalan jauh. Contoh dengan Ilmu-ilmu sosial, seperti Ilmu Politik, Antropologi, Sosiologi dan masih banyak lagi.

Problem Filosofis Ilmu
Dunia penelitian sebagai simbol epistemologi, mempunyai peran penting dalam naungan ilmu. Kita melihat dalam berbagai kritik, hal vital yang menjadi sasaran tembak adalah wilayah epistemologi. Contoh kritik Malik Badri kepada psikoanalisis. Alangkah bikjaknya BPI mempunyai standar khusus. Bukankah ketika kita memahami esensi sebuah metode kita akan menciptakan metode-metode baru, namun jka kita hanya mempelajari metode itu sendiri kita akan terjebak dengan metode tersebut.
Esensi dalam memahami substansi sebuah ilmu ialah manfaat agar kita tidak terjebak pada pedebatan panjang. Kejadiannya persis dalam segenap jurusan BPI dalam barbagai daerah, setiap saat setiap waktu tidak lain akan terus mengutak atik kurikulum. Namun hasilnya tidak melulu puas. Tentu puas disini bukan usaha dalam ijtihad ilmu, namun “terus lapar walau suah mekan berkali-kali”.
Dalam segi ontologis, BPI belum punya kematangan dalam mengenali badannya sendiri, berbagai mata ilmu masih terkesan comot sana comot sini. Ekses dari hal ini BPI belum PD untuk berkiprah lebih jauh menytakan dirinya. Serba tanggungkah? Kita bolehlah menginduk ke psikologi, namun suatu keniscayaankah bila filter Imu BPI kuat menandakan sisi ontologis yang begitu mapan.
Kaca mata aksiologis kini yang kita angkat, saya begitu heran kenapa jarang ada orang BPI ikut serta dalam kasus-kasus elit bangsa atau dunia, contohlah penyelesaian trauma di Aceh, penanganan stress di Sidoarjo dan konflik Poso. Kebanyakan sebagian dari kta masih bermain pada skup RS, Lapas dan panti sosial. Kita bisa mengatakan wilayah klinis seperti itu bukanlah garapan BPI. karena Kita harus berkutat pada wilayah maslah ringan saja. Namun apakah kita juga tidak bertanya kenapa psikiater berbicara konseling secara fasih dan kenapa psikolog sering disebut konselor. Bukankah mereka orang-orang yang seharusnya tidak mengambil lahan BPI. Dalam kenyataannya tidak ada standar profesi dalam realitas. Sekarang pertanyaannya kita mampu atau tidak?

* Mahasiswa BPI Jakarta

1 comment:

Anonymous said...

Saya sependapat dengan saudara penulis dalam banyak sisi. Terutama tentang pentingnya kita terus membangun dan memperkokoh keilmuan dan profesi BPI. Mengenai hal itu saya juga sependapat bahwa keilmuan BPI adalah anak kandung Ilmu Dakwah, yang secara spesifik mengkaji nafsiyah, fardiah dan fiah qolilah, lalu terfokus pada Bimbingan, Konseling, Penyuluhan dan Psikoterapi Islam. Bimingan (agama,remaja,keluarga Sakinah,Studi, Karir,HUZ); Konseling (agama,remaja,keluarga sakinah, studi, karir); Penyuluhan (Agama dan Sosial) dan Psikoterapi Islam (Perawatan Rohani Islam). Sehingga wilayah BPI memang luas, dan bukan mustahil nanti bisa dipersiapkan untuk menjadi fakultas. Sebagaimana dulu dakwah menginduk ke Ushuluddin lalu berdiri sendiri.