30 November 2007

Perkembangan Pesat Psikologi di Indonesia: Isu dan Ilmu

Oleh: Pizaro

Apa Tanggapan Anda melihat 2 berita di bawah ini?

Berita pertama tentang Anik Koriah, 31 tahun, tersangka pembunuh tiga anaknya, diduga menderita kelainan jiwa berupa paranoid yang berlebihan. “Hasil penyidikan sementara dia memiliki kekhawatiran yang berkepanjangan atas nasib ketiga anaknya,” ujar Kapolres Bandung Timur, Ajun Komisaris Besar Polisi.
Kuasa hukum tersangka, Adardam, tidak membantah jika kliennya merasakan ketakutan yang berlebihan atas nasib ketiga anaknya. “Bahkan saya sempat mendengar usulan psikolog untuk memeriksakan Anik ke psikiater,” katanya

Berita kedua tentang Empat anak yang tewas terbunuh karena diracun ibu kandungnya sendiri. Setelah keempat anaknya tewas, sang ibupun menyusul bunuh diri, dengan meminum racun yang sama. Kelima jenazah tersebut adalah Junania Mercy, 35, dan empat anaknya, yaitu Athena Latonia, 11, Prinsessa Ladova, 9, Hendrison, 9, dan Gabriela Al Cei, 1,5. Peristiwa menggegerkan itu baru diketahui masyarakat pada Minggu (11/3) siang.

Diduga mereka telah tewas pada Sabtu malam. Sebelum bunuh diri, Mercy menjajarkan keempat anaknya yang sudah tewas di atas tempat tidur di rumah mereka di Jl Taman Sakura RT 1/10 No 12, Lowok Waru, Malang. Tak jauh dari kelima mayat itu terdapat surat yang ditulis Mercy, yang berisi ucapan terimakasih pada suami Mercy yang juga ayah keempat bocah, Hendri Suwarno, 37. Mercy juga meminta agar jenazahnya dan anak-anaknya dikremasi.

Berita berita diatas seakan menandakan ada suatu gejala kejiwaan yang berkembang akhir-akhir ini. Cuplikan liputan di atas, hanya sebagai contoh dari maraknya fenomena dinamika psikis masyarakat. Belum lagi kita melihat berita tentang penembakan sesama polisi yang terjadi di Semarang, Papua, Surabaya dan tempat lainnya. Lalu Smack Down ala bocah kencur, KDRT, Tawuran Warga, Kesurupan, Pengungkapan Kasus korupsi, gerakan Mahasiswa, Perceraian, Depresi, Paranoid, Trauma, Skizo, OK, Incest, Neurosis serta kasus lain yang bernuansa psikis.

Pertanyaannya kemudian bagaimana peran para psikolog, psikiater, konselor, agamawan menanggapi kasus seperti di atas? Gayung bersambut banyak dari mereka mengeluarkan kemampuannya dalam melihat secara jernih kasus tersebut, serta endingnya melakukan terapan dalam menyelesaikan permasalahan ini.[1]

Ya permasalahan psikis memang menjadi trendsetter kegelisahan manusia di Indonesia, tidak dapat ditutupi bahwa ini semua semakin memperlihatkan kadar kesehatan jiwa masyarakat.

Psikologi sebagai ilmu yang berorientasi kepada dimensi psikis individu, memang seakan terkena getahnya dari lingkaran utama dari ini semua. Ilmu yang dikatakan sebagai “Hari Depan” oleh Prof Slamet Iman Santoso ini,[2] telah menjadi ilmu yang diminati oleh mahasiswa tidak hanya untuk masuk menjadi mahasiswa Psikologi tapi untuk membacanya, mendiskusikannya, mangangkatnya atau sekedar memakai buku-buku psikologi untuk menambah-nambah referensi di Skripsi.[3]

Dari sudut pengembangan, Psikologi tampaknya mulai mengejar ketertinggalan dari ilmu sosial atau humaniora yang lebih dulu hadir dan berkontribusi terhadap dunia.[4]

Dalam keseharian istilah-istilah dalam psikologipun kerap diangkat dalam bentuk komunikasi verbal, seperti kata-kata: psikologis, emosional, trauma, karakter, pribadi dan hal lainnya.

Problem Pradigma Konseling

Kalau ditilik dalam pendekatan historis sebenarnya konseling itu hadir di Indonesia seiring dengan lahirnya Psikologi. Sebagai catatan Prof Slamet menghadirkan disiplin Psikologi, salah satunya terdesak oleh kebutuhan pendidik yang profesional dalam menangani kasus siswa di sekolah-sekolah. Ini terlihat jelas dari pernyataan Prof Slamet ketika diwawancara oleh Joesoef Noersjiwan.

“Bahwa sedapat mungkin pada setiap sekolah disamping seorang guru biasa, harus ada seorang psycholog yang mengikuti perkembangan murid-murid, memberikan advis pada guru-guru, cara pendidikan dan penyaluran”. Kata Prof Slamet. Dari ide diatas akhirnya substansi konseling mulai dibuka di perguruan-perguruan tinggi dengan nama Psikologi Pendidikan dan Bimbingan yang kemudian dikenal dengan nama Bimbingan dan Konseling.

Sebagai insan konseling, sebenarnya kita harus peka kepada isu psikologi yang berkembang dewasa ini. Kalahnya start konseling dalam bermain pada lingkup krisis manusia modern salah satunya disebabkan pada paradigma sempit dalam menafsirkan BK itu sendiri. Ada beberapa hal yang mesti didiskusikan mengenai karakter BK saat ini. Cara yang baik ialah dengan melakukan reinterpretasi mengenai makna BK. Setidaknmya ada sekitar 5 masalah yang menjadi “biang keladi” dalam merias wajah BK dewasa ini. Gugatan secara etis layak untuk dimunculkan mengingat sekarang kita sedang bicara mengenai pengembangan BK.

  1. Menangani/Mengobati

Konseling tidak tepat rasanya jika hanya dilakukan untuk mengahadapi masalah. Banyak pihak menilai Konselor bekerja menangani masalah yang ada, dan berkesudahan ketika masalah itu terselesaikan juga ataupun ketika klien tidak lagi mendatangi konselor.

Berangkat dari perdebatan antara wilayah kerja BK dan Psikoterapi. Tidak jarang pakar merangkum distingsi kedua hal tersebut. Seperti dirangkum oleh Latipun mengenai perbedaan keduanya, disebutkan bahwa BK menangani masalah yang situasional sedangkan Psikoterapi menangani emosional yang berat neurosis.[5]

Namun titik tekannya bukan hanya pada kualitas kasus, tetapi pada periodeisasi masalah. Ada baiknya BK tidak hanya disibukkan pada bentuk layanan mengobati masalah, tetapi ada bentuk yang dilupakan sebagai ciri khas kesempurnaan serta kemapanan BK yaitu mencegah dan membangun.

  1. Lisan

Dalam era glonbalisasi ini dimana segala hal serba baru dan kreatif, banyak ilmu dipacu untuk mengepakkan sayapnya dalam menangani krirsis manusia modern. Tak terkecuali BK yang patut menyeburkan diri dalam pusaran ini.

Dunia jurnalisme sebagai dunia tulis menulis dapat dijadikan partner untuk mengemas BK melaui tulisan yang termuat dalam media massa. Internet? Rasanya diandalkan dalam mewujudkan visi ini, seperti yang dilakoni e-psikologi dengan konseling via emailnya. Atau lebih menariknya guru BK dapat membuat semacam rubrik BK dengan kemasan menarik untuk memikat siswanya. Hal ini dirasa perlu karena tidak setiap orang dapat mendatangi konselor, selain itupun banyak individu yang canggung berbicara kepada konselor.

  1. Institusi Pendidikan

Permasalahan ini cukup urgen, bahwa BK ialah ada di Sekolah, secara tak langsung, mempersempit ruang kerja BK. Ini tidak lepas dari “monopoli” jurusan BK yang diletakkan di kampus keguruan dan pendidikan. Dan khususnya di Indonesia, fenomena ini pun belum dirasa berkembang secara signifikan untuk membentuk BK non pendidikan.

Secara realita, sebenarnya tidak semua kampus memojokkan BK ke wilayah ekslusifitas pendidikan, toh ada beberapa keguruan yang mencoba terlepas dalam pergulatan pemikiran dengan tujuan akhir pendidikan. UPI misalnya, membuka studi konseling karir, lintas budaya atau sosial kemasyarakatan. namun karena hidupnya jurusan itu di kampus-kampus dengan latar keguruan, akhirnya sulit membenamkan rasa apriori pada 2 wilayah yaitu keilmuan dan ruang kerja.

  1. Individu

Individupun tidak kalah pentingnya dalam menciptakan sebuah nilai atau paradigma. Seperti yang disebut diatas tadi, tentang stigma BK sebagai jurusan yang soft memang tidak bisa dielakkan, ketika BK masih berfokus pada penanganan individu.

Penulis melihat stigma individu yang ditanamkan kepada BKI, berkenaan dari berbagai teori yang ada. Secara historis, wajar jika teori itu berorientasi kepada individu, mengingat teori BK belum lepas dari penciptanya yang berasal dari psikologi atau psikiatri. Sebutlah Carl Rogers, Ivan Pavlov, BF Skinner, Alfred Adler dan sebagainya[6]

BK sebagai event monopoli individu, tentu tidak etis diletakkan pada asumsi yang salah. Akan Tetapi berangkat dari corak suatu budaya dan masyarakat yang juga bangga dengan jatidiri massa, perlu dipertimbangkan. Banyak individu yang merasa nayaman dengan pendekatan BK secara massa. Analogi mudahnya seperti pertandingan sepakbola. Ada orang yang nyaman menonton sendiri, namun banyak juga yang lebih menikmati jalannya pertandingan secara beramai-ramai, atau pula berangkat langsung ke stadion, melihat bintang pujaan. Ini berarti BK pun dapat menarik, jika dikemas dalam bungkus massa, dengan dampak positif para klien dapat terpacu adrenalinnya.

Ada yang perlu yang diingat bagi model intervensi secara massa. BK secara massa harus pula dibingkai yang bersifat dinamis, progresif dan mengikuti pola-pola yang kreatif sesuai tuntutan zaman.

  1. Inisiatif Klien

Perguruan tinggi mempunyai 3 karakter yang dipelihara secara luhur yang populis disebut tridharma. Pengajaran, penelitian serta pengabdian. Secara etis tiga hal itu mesti dipraktikan juga dengan kreatif dan penuh dinamisasi. Konselor sebagai pengabdi masyarakat mesti berperan aktif dalam menciptakan suatu tatanan masyarakat madani. Konsekuensi logis dari hal ini adalah aktivasi BK digalakkan dalam suatu setting kemasyarakatan. Tidak sepantasnya konselor hanya menuggu inisiatif klien datang, dan berorientasi komersial. Hal ini sebagai tantangan LSM BK yang mempunyai target-target pembinaan masyarakat.

Situasi Kondusif Psikologi saat ini di Indonesia

Awalnya psikologi berurusan dengan perilaku individual saja, walaupun sejak zaman pra-Wundt, sudah disadari bahwa kaitan perilaku individu itu dengan lingkungannya sangat erat. Namun pengaruh lingkungan yang besar membuat suatu paradigma baru dalam psikologi.

Michael Freese ketua IAAP (International Association of Applied Psychology) mengatakan ada 4 kecendrungan Psikologi saat ini.[7] Yang pertama adalah makin meningkatnya internasionalisasi psikologi, karena globalisasi, makin seringnya kontak antar negara, komunikasi antar budaya dan lintas negara dsb. Kecenderungan kedua adalah bahwa akhir-akhir ini berbagai disiplin/cabang psikologi bertumbuh dan bergerak lebih cepat dari masa-masa lalu. kecenderungan ketiga. Yaitu terapan psikologi makin lama makin spesifik, makin teknis dan makin profesional. Kecenderungan ini didorong oleh keharusan menunjukkan kompetensi yang lebih baik dari pelayanan-pelayanan jasa sejenis psikologi yang ditawarkan dan diberikan oleh orang awam. Akhirnya, kecenderungan keempat adalah bahwa psikologi makin lama makin terkait dengan kebijakan (policy oriented), yaitu secara langsung atau tidak langsung mempengaruhi kebijakan-kebijakan dalam pemerintahan, pendidikan, perusahaan dsb.[8]

Saya coba mengutip pernyataan dari Prof Sarlito, pada dasarnya masyarakat yang concern pada permasalahan individu atau kejiwaan di Indonesia di untungkan dengan nama besar psikologi yang sudah dikenal luas masyarakat. Dengan begitu peluang untuk berkecimpung di masyarakat semakin luas.

Indikator kuat lainnya ialah semakin banyak buku-buku psikologi yang ditertbitkan. Sebagai contoh, Psikoanalisis yang dibilang pudar, malah banyak di cetak ulang dan dibahas dalam bentuk buku oleh para penulis di Indonesia. Contohnya Yustinus Semiun, Teori Kepribadian dan Terapi Psikoanalitik Freud yang dicetak tahun 2006 atau Iman Setiadi Arif Dinamika Keopribadian: Gangguan dan Terapinya ayang diterbitkan pada tahun 2005. Buku-buku terjemahan Freudpun banyak dicetak ulang di tahun 2000an antara lain Civilization and Discontents, Toteem dan Taboo, dan Pengantar Umum Psikoanalisis.

Baru-baru ini Hana Djumhana Bastaman justru menerbitkan buku barunya tentang Logoterapi, suatu mazhab psikologi humanistik modern dan di bedah juga pada 9 juni yang lalu di Pesta Buku Jakarta. Kita ketahui mazhab psikologi ciptaan Viktor Frankl ini sangat diminati psikolog muslim di Indonesia.

Karenanya, kita patut bangga dengan situasi ini. Namun bagaimana dengan peran mahasiswa BPI melihat situasi ini. Hanya individu-individu yang cerdaslah yang mau mengambil kesempatan ini. Agar kita tidak kalah dengan mahasiswa UI, UGM, Sanata Darma, Malanng, dll. Semoga kawan.. karena menjadi besar dan cerdas adalah keniscayaan bagi mereka yang mau, pandai dan bekerja keras. Hidup BPI!!!!!!!



[1] Kalau mau berpikir nakal lagi bahwa di antara merekapun terlihat berebut untuk menjadikan kasus-kasus kejiwaan sebagai “tender” keilmuan masing-masing. Psikiater yang sebelumnya hanya melihat permasalahan dalam terapan kedoketran Jiwa, kini mulai menjajah lahan psikologi dan konseling dengan berbicara mengenai budaya, lingkungan, keluarga yang botabene menjadi hak psikologi dan konseling. Saya melihat peta kasus yang banyak diexpose di media telah didominasi oleh Psikiater dan Psikolog.

[2] Pak Slamet ialah pelopor Psikologi di Indonesia, basic beliau adalah Kedokteran. Fakultas Psikologi pertama di Indonesia berada di UI yang beroperasi pada tahun 1953. Untuk lebih lengkapnya lihat. Slamet Iman Santoso, Psychology sebagai Ilmu Pengetahuan dan Hari Depan, (Jakarta: Bulan Bintang, 1975)

[3] Ini bisa dilihat di UIN Jakarta sendiri dimana Psikologi hadir di beberapa Fakultas dalam bentuk mata kuliah yang tidak hanya bercorak umum tetapi khusus. Seperti di Fak. Adab dan Humaniora ada mata kuliah Psikolinguistik, di Fak. Ekonomi dan Ilmu Sosial ada Psikologi Manajemen, Psikologi Konsumen, PIO. Di FDK ada Psikologi Komunikasi dan Psikologi Sosial, sedangkan di Fak Syariah ada Psikologi Hukum. Fak. Tarbiyah mempunyai Psikologi Pendidikan.

[4] Di Indonesia, Sosiologi juga kalah langkah dengan Psikologi, Indikatornya dapat dicek dari pengembangan Sosiologi itu sendiri, yang untuk S2 nya saja hanya mempunyai 2 peminatan Sosiologi dan Sosiologi Pembangunan. Berbeda dengan Psikologi yang mempunyai 3 peminatan yaitu Sains, Profesi dan Terapan yang juga mempunyai konsentrasi sendiri. Filsafatpun setali tiga uang, sebagai ibu dari psikologi, Filsafatpun menjadi kurang diminati karena salah satunya ialah unsur pragmatisme filsafat yang telah menyebar ke “anak-anaknya”.

[5] Latipun, Psikologi Konseling, (Malang: UMM) 2003 h. 15

[6] Psikiatri sering disebut ilmu kedokteran jiwa, tetapi penulis bukan pada wacana yang memastikan bahwa psikiter pasti menangani individu, tetapi lebih kepada wilayah epistemologi keilmuan atau menemukan teori dengan pengalaman individu-individu yang bermasalah.

[7] www.untag-sby.ac.id/?mod=berita&id=32

[8] Sarlito Wirawan Sarwono menilai di Indonesia bahkan sudah sampai taraf operasional seperti penanggulangan teror, penanganan korban konflik atau pasca-trauma, pencegahan dan penyembuhan korban narkotika, pengaturan lalu-lintas dsb

No comments: